Hasil Nyalo SIM Raub Jutaan Rupiah

MEDAN | Kepengurusan SIM (Surat Izin Mengemudi) ternyata menjadi salah satu sumber penghasilan empuk di Sat Lantas Polresta Medan. Hal ini menjadi sorotan media ini untuk menelusuri lebih jauh kebenarannya.

KEPALA BARESKRIMMendengar pengakuan salah seorang calo pada Kamis (18/6/2015), pria berambut ikal ini mengaku selalu mendapat job pengurusan SIM C minimal dua orang pasien dalam sehari. Pria yang mengaku sudah menjalani pekerjaan itu sejak dua tahun lalu dapat meraup pundi-pundi rupiah hingga 2-3 ratus ribu rupiah sehari.

“Kalau di sini banyak kawan-kawan calo, memang tiap hari ngak semua yang datang. Tiap hari pasti ada di sini 12 orang. Kadang cuma 10 orang,” sebutnya sambil mengakui bahwa ia tidak tahu persis jumlah calo yang bermain di sana.

“Kalau jumlah itu ngak taulah pastinya soalnya ngak pernah datang semua, kadang ada yang baru menggantikan yang lama, jadi ngak selalu kenal. Tapi, kalau tiap hari minimal 10 orang pasti ada lah,” sebutnya.

Pria yang mengaku tinggal di Jalan Sejati Kampung Durian ini, setiap bertemu dengan pemohon SIM, dia selalu bernegosiasi hingga mendapatkan harga yang cocok. “Kalau jumpa sama pemohon, kita nego lah. Biasanya kita buka harga Rp 800 ribu, sampai nanti jatuhnya minimal Rp 500 ribu. Kalau pemohonnya ngak sanggup ngasih Rp 500 ribu, kitapun ngak mau. Makanya minimalnya harus Rp 500 ribu. Pintar-pintar kitalah melobi pemohonnya,” tambahnya lagi.

Dari hasil yang didapat, calo akan memberikan dana sebesar Rp 120 ribu kepada petugas yang sudah menjalin kerjasama dengan calo tersebut. 120 ribu itu adalah biaya kesehatan sebesar Rp 20 ribu dan biaya administrasi sebesar Rp 100 ribu. Sementara selebihnya akan dibagi oleh calo dan petugas dengan kalkulasi pembagian 40:60 (40% untuk calo dan 60% untuk petugas).

“40:60 kita bagi. Petugas pasti taulah berapa kita minta dari pemohonnya, soalnya didalamkan pasti ditanya orang itunya, jadi ngak bisa kita bohongi petugasnya,” tambahnya sambil tertawa terkekeh.

Diwaktu yang hampir sama dan lokasi yang cukup berdekatan, awak media ini kembali berhasil menemui calo lain yang juga mau menceritakan sedikit soal permainan para calo.

Pria berkaos oblong yang juga merangkap sebagai jukir ini juga memberikan keterangan yang hampir sama. Dengan suguhan sebatang rokok, awak media ini berhasil mengajak pria yang berumur sekira 40 tahunan ini bercerita.

Dia menyebut bahwa pengurusan SIM hanyalah pekerjaan sampingannya.
“Kalau untuk mengurus SIM sampingan saja. Paling kalau ada pengunjung yang datang, pas mau parkir kita tanyai mau ngapain, kalau dia bilang mau ngurus SIM, barulah kita lobby,” tambahnya.

“Aku dapatnya paling 2-3 ratus rupiah dari pengurusan SIM. Kalau sehari paling dapat satu, kadang dua, kadang 3. Kalau harganya bervariasi, tergantung lobi-lobi kita. Kadang ada yang dapat Rp 700 ribu untuk ngurus 1 SIM, kadang Rp 600 ribu. Kalau minimalnya Rp 500 ribu. Kalau dibawah itu kita ngak mau lagilah, soalnya ke dalam minimalnya Rp 200 ribu,” ujarnya lagi sambil terkadang sibuk mengatur kendaraan bermotor yang parkir di lokasi tersebut.

“Banyak juga di sini kawan-kawan calo. Tiap hari pasti adalah minimal 10 orang di sini, kecuali kalau hari Jumat, Sabtu sama hari libur, barulah sepi,” lanjutnya.

Dari pengakuan kedua calo itu, kalkulasi perkiraanpun lahir. Setiap calo mampu mengurus rata-rata 1-2 SIM C dalam sehari dengan jumlah calo minimal 10 orang. Artinya, dalam sehari tercatat ada 15 SIM C yang diurus melalui calo.

Dari 15 SIM tersebut, petugas mendapat siraman minimal 200 ribu/SIM (bila harga SIM Rp 500 ribu). Artinya, dalam sehari pundi-pundi rupiah berhasil diraup hingga 2 juta dalam sehari. Jika hitungan tersebut diseret dalam hitungan bulan (22 hari, diluar hari Sabtu dan Minggu), maka pundi-pundi rupiah itu mencapai hingga Rpp 44 juta dalam sebulan.

Sebelumnya, Kasat Lantas Polresta Medan, Kompol M Hasan membantah bahwa hal ini adalah permainan yang terstruktur dan tersistematis. “Di dalam kantor Sat Lantas tidak ada calo. Saya tidak tahu kalau di luar, yang pasti anggota saya tidak ada yang bermain atau bekerjasama dengan calo. Apabila ketahuan, saya akan tindak tegas, akan saya pindahkan,” tegas Hasan. (man/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *