Pasien BPJS Kesehatan Mencak-mencak di RSU Adam Malik Medan

MEDAN | Untuk kesekian kalinya masyarakat mengeluhkan pelayanan di RSUP H Adam Malik. Keluhan ini terlihat jelas dari luapan emosi yang meledak-ledak dari salah seorang keluarga pasien, Hendra Situmorang (34) yang dirawat di ruang rawat inap Rindu B rumah sakit milik Kemenkes RI, Selasa (3/11/2015).

KEPALA BARESKRIMDengan nada suara yang cukup tinggi, Hendra mengatakan, pihak RSUP H Adam Malik Medan tidak memberikan pelayanan yang maksimal kepada pasien yang merupakan adik iparnya itu, Jamilah, 28.

Bahkan pihak rumah sakit terkesan menelantarkan Jamilah yang mengalami luka cukup serius di bagian pinggangnya yang sudah menghitam, membengkak, dan berair.

Seyogyanya, kata Hendra, rumah sakit harus melakukan tindakan medis seperti membersihkan dan mengobati luka tersebut. Namun, pihak rumah skait malah mengatakan bahwa Jamilah dalam keadaan baik-baik saja.

“Apanya kalian ini. Adikku itu enggak bisa bangun, kalian bilang dia enggak apa-apa. Lukanya udah hitam dan berair gitu masih belum kalian sentuh juga. Kalau kalian enggak sanggup, pulangkan saja adikku itu,” ungkap Hendra mencak-mencak kepada petugas medis di ruangan rindu B.

Mendengar kemarahan Hendra, pihak manajemen rumah sakit pun memanggilnya ke ruangan supervisor Rindu B. Di sana, sang supervisor menyampaikan permohonan maaf atas pelayanan rumah sakit yang mengecewakan. Di sana, Hendra pun menceritakan kekecewaan yang dirasakannya.

Sebagaimana penuturan Hendra, sejak Jamilah masuk ke RSUP H Adam Malik, (31/10/2015), tidak ada seorang dokter pun yang menghampirinya saat berada di ruang rawat rindu B, tepatnya di ruang obgyn atau ruang rawat bersalin.

Hendra pun memepertanyakan mengapa Jamilah diletakkan di ruang rawat bersalin. “Kok ruang bersalin pulak kan. Adik saya ini butuh penanganan serius. Dia aja enggak bisa bangun. Tidurnya miring terus. Makan aja cuma lima suap, udah itu nggak mau lagi,” kesalnya.

Hanya selang infus yang menemani Jamilah selama 3 hari di sana. Selain infus, Jamilah juga mendapatkan tranfusi darah golongan AB sebanyak 2 kali (2 kantong) di hari yang berbeda, yaitu tanggal 1 atau 2 November. Namun transfusi darah yang kedua menyebabkan Jamilah menderita gatal-gatal di sekujur tubuhnya.

Hendra harus menelan rasa kecewa lagi saat pertanyaannya mengenai alergi yang dialami Jamilah, dan anehnya, dokter co-ast menjawab tak tahu.

“Kok bisa kalian bilang enggak tahu. Kalian pikir adik saya kelinci percobaan. Saya tanya juga sama mereka mana dokternya? Dibilang Supervisornya kalau dokternya sibuk entah apa. Intinya enggak ada dokter,” ujarnya sembari mengatakan ketidaksediaannya menandatangani selembar surat yang disodorkan pihak manajemen saat itu.

Setelah kemarahan Hendra usai, barulah luka Jamilah dibersihkan dan diperban oleh petugas medis. Jamilah juga menerima terapi motorik. “Apa harus mengamuk dulu keluarga pasien di sini baru ditangani! Kan lucu kali Adam Malik ini. Malah tadi dokter spesialisnya langsung yang datang. Tapi enggak suka saya pas dia bilang kalau Jamilah ini bukan tanggung jawab dia karena dokter yang sebenarnya bukan dia. Dibilangnya Jamilah ini enggak perlu operasi. Ya saya enggak perlu operasi saya bilang. Saya cuma perlu pelayanan yang baik. Tapi dokter co-ast bilang kalau ada retak sedikit di tulangnya. Udah gitu kok di USG pula adikku. Harusnya kan di rontgen,” ujarnya.

Jamilah merupakan pasien rujukan dari RS Insani Stabat. Sesampainya di RSUP H Adam Malik, Jamilah ditangani oleh dokter jaga di ICU. Di sana, Jamilah mendapatkan tindakan USG dan diinfus. Dokter pun mengatakan Jamilah dalam keadaan yang baik.

Jamilah yang merupakan warga Desa Hinai kanan pasar IV tengah, Stabat, menderita luka di bagian pinggang belakangnya akibat terkena reruntuhan beton di rumahnya pada Jumat (30/10) sore. Saat itu Jamilah langsung pingsan dan dibawa langsung ke rumah sakit Insani. Beruntung, anaknya yang berada dalam pangkuan Jamilah tidak mengalami luka serius. “Saya cuma mau adik ipar saya dirawat di sini dengan sebaik-baiknya. Kalau enggak sanggup, bilang. Jangan jadikan adik saya kelinci percobaan,” tegasnya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *