Lagi Pulas Tertidur | Sindikat Upal Ini Diboyong ke Kantor Polisi

MEDAN | Entah bermimpi apa tiga pemuda asal Riau ini. Saat pulas dalam lelapan tidur, terpaksa dibangunkan dengan kedatangan tamu ‘spesial’.

KEPALA BARESKRIMRupanya tamu spesial itu adalah aparat kepolisian unit Reskrim Polsek Bangun. Tanpa perlawanan, ketiga pemuda itu dari ‘sarang’ persembunyiannya di Nagori Tumorang Kecamatan Gunung Maligas Kabupaten Simalungun, (15/11/2015), diboyong ke komando.

Ketiga pemuda itu adalah Juliandi (22), Chadra Pranata (21), Nurul Efendi (21), diduga sebagai pelaku pemasluan uang. Oleh polisi ketiga warga Rokan Hulu Riau disebut sebagai sindikat pengedar uang palsu atau upal.

Dalam penangkapan itu, dari pelaku, disita barang bukti upal sebanyak 130 lembar pecahan Rp 50 ribu, 18 lembar uang pecahan Rp 10 ribu, 1 unit printer pencetak uang, kertas HVS, kamera DSLR dan Pisau Cutter sebagai pemotong uang paslu.

Kapolsek Bangun, AKP Hatopan Silitonga mengatakan, penangkapan ketiga pelaku berawal dari laporan masyarakat yang merasa dirugikan dengan peredaran upal.

Mendapat laporan itu, petugas melakukan pengintaian selama empat hari. “Setelah melakukan pengintaian selama empat, ketiganya lalu kita tangkap,” jelasnya.

Dari pengakuan, para pelaku ini datang ke Simalungun untuk mencari pekerjaan. Namun, sembari menunggu mendapatkan pekerjaan, para pelaku tinggal di rumah salah satu saudaranya.

“Meski sudah memasukan beberapa lamaran ke beberapa perusahaan, pelaku tak kunjung dipanggil hingga akhirnya mereka nekad membuat uang palsu,” katanya.

Pelaku awalnya menfoto uang yang akan dicetak. Selanjutnya, uang yang telah difoto lalu dimasukkan kedalam laptop kemudian didesain ulang dengan photoshop baru dicetak dengan print. “Pelaku sudah tiga kali mencetak uang palsu dengan total Rp 7,5 juta,” katanya.

Pelaku sendiri merupakan tamatan di salah satu kampus jurusan Informasi Teknologi di Riau. “Ketiga pelaku sebelumnya sudah mengedarkan upal ┬ádi Riau. Karena terdesak kebutuhan hidup dan belum bekerja, para pelaku kembali melakukan aksinya,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya masih melakukan pengembangan kemana saja uang itu akan dan sudah disebarkan. “Ketiganya kita jerat dengan pasal UU No 7 tahun 2011 tentang mata uang. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara,” pungkasnya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *