HeadlineIndeksSosial

Inilah Penyebab Kematian Ibu

MEDAN | Angka kematian ibu di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) masih relatif tinggi. Penyebab kematian itu dipengaruhi kurangnya pemahaman bagi ibu hamil dalam memeriksa kesehatannya.

KEPALA BARESKRIMMenurut Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sumut, dr Retno Sari Dewi mengatakan, jumlah 175 angka kematian ibu itu merupakan jumlah kematian dalam wilayah tertentu, seperti di Sumut dalam kurun waktu tertentu per 100 ribu kelahiran hidup.

“Jadi, kematiannya karena dengan kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Kalau misalnya meninggal karena kecelakaan itu tidak masuk, tapi kalau ada penyakit seperti jantung, tekanan darah tinggi, ini yang juga mempengaruhi dan masuk dalam angka kematian ibu,” ujarnya kepada wartawan.

Dinkes mengimbau kepada masyarakat, jika melakukan persalinan harus difasilitas kesehatan. “Tinggal bagaimana masyarakat menyadari pentingnya memeriksakan kehamilan di fasilitas kesehatan dan petugas juga harus paham,” katanya.

Dijelaskannya, pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan dilakukan 4 kali selama kehamilan, yaitu satu kali pada triwulan pertama, satu kali triwulan kedua dan dua kali triwulan ke tiga. “Ini penting sehingga dapat dikontrol kehamilannya,” tukas Retno.

Kepala Seksi Gizi Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Sumut Rosidah menambahkan, dari 175 kematian ibu tersebut disebabkan faktor Eklamsia, seperti kejang, unema atau bengkak badan, adanya kebocoran di ginjal serta paling parah, yaitu Hypertensi berjumlah 38 orang. Faktor perdarahan, seperti ibu anemia 47, infeksi 10, partus macet 3, abortus 3 dan lain lain 70.

Disebutkannya, dari tabel indikator kesehatan ibu di Sumut tersebut, terlaporkan jumlah kematian ibu tertinggi di kabupaten Deli Serdang, 27, Nias Utara 22, Asahan 21. Namun, kabupaten Labura dan Nias datanya belum diterima. Sedangkan jumlah lahir hidup tertinggi Kota Medan 42.125 dan kabupaten Langkat 16.226.

“Yang datanya tak terlaporkan mungkin data tidak terkoper oleh surveilans. Makanya, dibentuk surveilans kematian ibu kerjasama kecamatan dan disdukcapil agar datanya dapat dikover,” imbuhnya.

Rosidah juga mengatakan, table indicator kesehatan anak di Sumut hingga Oktober 2015 sebanyak 654 jumlah kematian neonatel atau bayi usia 0 sampai 28 hari, bayi (usia 29 hari sampai 1 tahun) ada 140 dan anak Balita (1 sampai 5 tahun) sebanyak 99 orang. Jadi, jumlah kematian Balita atau bayi usia 0 sampai 5 tahun yaitu 893 orang.

Dikatakanya kembali, kabupaten/kota yang data untuk bayi belum terlaporkan yaitu Dairi, Labuhan Batu Utara, Tapanuli Utara dan Serdang Bedagei. “Diharapkan agar datanya dilaporkan kepada kita,” ujar Rosidah.

Salah satu yang akan dilakukan tahun ini dalam upaya mengatasi kematian ibu dan bayi ini, sambungnya, akan dibuat Rumah Tunggu Persalinan (RTP) yang dananya berasal dari APBN melalui DAK kabupaten/kota. Rumah tunggu persalinan nantinya dilaksanakan di daerah terpencil dan berada tidak jauh dari Puskesmas atau fasilitas kesehatan setempat.

“RTP ini bukan tempat bersalin tetapi bila ada ibu hamil dirujuk dari rumahnya yang jauh agar tinggal di RTP sejak 3 hari sebelum melahirkan dan 3 hari sesudah melahirkan atau tergantung kesepakatan. Ibu yang tinggal di RTP ditambah satu orang pendampingnya, selama di rumah tersebut, dibiayai termasuk transportnya. Ini salah satu upaya memberikan pertolongan bagi ibu hamil,” pungkas Rosidah. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button