‘Teror’ Dandim 0201 Ancaman Serius bagi Pers

MEDAN | Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumut terkejut dengan ancaman Komandan Distrik Militer (Dandim) 0201 Medan, Kolonel Maulana Ridwan yang akan mengambil tindakan tegas jika media televisi masih terus menyiarkan berita terkait bentrokan OKP IPK dengan PP, akhir pekan lalu.

KEPALA BARESKRIMMenurut Ketua IJTI Sumut, Eddy Iriawan, di negeri yang belum lama keluar dari alam semi otoritarisme Orde Baru, ancaman-ancaman terhadap institusi demokratis seperti pers sudah semestinya dikubur dalam-dalam.

“Dalam pasal 4 ayat 2 Undang-undang Pers sudah sangat jelas bahwa terhadap pers nasional tidak boleh ada pelarangan penyiaran,” jelas Edi.

Tentu diktum ini sudah sangat jelas bahwa tidak boleh ada pihak manapun yang boleh melakukan intervensi dalam aktivitas jurnalisme.

“Lalu bagaimana jika ada pihak-pihak yang menganggap pers sudah sebagai bertindak tirani dalam kehidupan sosial?” tanyanya, Kamis (4/2/2016).

Masyarakat kan sudah disediakan medium untuk melaporkan media pers yang dianggap melanggar dan merugikan pihak lain.

Menurut Edi didampingi Sekretaris Budiman A Tanjung dan beberapa pengurus lainnya, jika hal tersebut terjadi, ada wadah yang disediakan pembuat UU yakni melakukan hak jawab atau memakai hak koreksi.

“Jadi keberadaan Undang-undang Pers tidak hanya untuk menjamin kemerdekaan kehidupan pers, namun juga dibarengi dengan rambu-rambu agar pers tidak merugikan pihak lain ” tambah Edi.

Karena itu, sikap yang dipertontonkan Dandim Medan beberapa waktu lalu itu sangat tidak elok dan merugikan institusi TNI sendiri yang sedang aktif melakukan reformasi institusi. Apalagi tontotan itu disuguhkan di depan banyak pekerja pers dan unsur Muspida lainnya.

“Nah, karena itu sikap-sikap seperti ini terhadap pers harus dikritis serius karena akan sangat merugikan pers maupun masyarakat yang mengkonsumsi produk-produk jurnalusme,” tegasnya.

Secara organisasi menurut Edi, pengurus pusat IJTI akan melaporkan hal ini kepada Mabes TNI dan Komisi 1 DPR RI untuk mempertanyakan motif ancaman secara verbal seperti itu kepada para jurnalis. (rel/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *