PASTINYA KEMATIAN

Oleh: Rasta Kurniawati Pinem, MA

Kematian, adalah suatu yang pasti akan dialami oleh semua makhluk yang bernyawa. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 185 yang artinya Tiap-tiap yang bernyawa/berjiwa akan merasakan mati. Kematian akan datang menjemput kita suka atau pun tidak suka.

rastaKepastian kematian sebenarnya sering kita saksikan dalam hidup ini. Kita sering menghadiri acara-acara kematian orang lain (takziah). Hal yang terpenting ketika kita menyaksikan peristiwa kematian adalah belajar mengambil pengajaran.

Peristiwa kematian mengingatkan kita juga akan mengalami hal yang sama. Cepat atau pun lambat, sehat atau pun sakit, tua atau pun muda kalau Allah sudah berkehendak untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak bila ajal sudah tiba di manapun kita berada maut tetap menjumpai kita.

Ada sebuah kisah kematian yang bisa dijadikan Itibar. Pada suatu hari Izrail mendekati Musa AS. Musa bertanya: apakah engkau datang mengunjungiku atau untuk mencabut nyawaku? Izrail menjawab: untuk mengambil nyawamu.

Musa kembali bertanya: bisakah engkau memberi kesempatan kepadaku untuk melakukan perpisahan dengan anak-anakku? Izrail menjawab: tidak ada kesempatan untuk itu. Lalu Musa bersujud kepada Tuhan memohon agar memerintahkan Izrail untuk memberikan kesempatan kepada Musa untuk menyampaikan kata-kata perpisahan dengan anak-anaknya.

Tuhan berkata kepada Izrail: berikan kesempatan kepada Musa. Musa pun mendatangi keluarganya. Semuanya terharu dan menangis, Musa AS pun menangis.

Tuhan bertanya kepada Musa AS. Hai Musa kamu akan datang menemui-Ku. Untuk apa tangisan dan rintihan ini? “Hatiku mencemaskan anak-anakku,” kata Musa.

Tuhan berfirman: hai Musa, lepaskan hatimu dari mereka. Biarkan Aku menjaga mereka dengan kecintaan-Ku. Barulah hati Musa tenang dan bertanya kepada Izrail: dari mana engkau akan mencabut nyawaku?

Izrail menjawab: dari mulutmu. Musa berkata: apakah engkau akan mencabut nyawa dari mulut yang sudah bermunajat kepada Tuhan?

Izrail menjawab: kalau begitu dari tanganmu. Musa bertanya lagi: Apakah engkau akan menjemput nyawa dari tangan yang pernah membawa lembaran taurat?

Izrail menjawab: kalau begitu dari kakimu. Musa bertanya lagi: apakah engkau akan mengambil nyawa dari kaki yang pernah berjalan menuju Thur untuk bermunajat kepada Tuhan?

Izrail kemudian memberikan buah yang harum untuk dihirup Musa dan Musa pun menghembuskan nafas yang terakhir. Para malaikat bertanya kepada Musa “hai nabi yang paling ringan matinya, bagaimana rasanya kematian?

Musa berkata: “seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup (dikutip dari Muhammad Isytihari, Alam Barzakh; Jalaluddin Rahmat, Meraih cinta Ilahi).

Maksimalkan Hidup Sebelum Mati

Kita tidak tahu kapan kematian menghampiri kita. Oleh sebab itu, hendaklah kita memaksimalkan kehidupan ini sebelum kematian datang menjemput.

Orang yang bisa memaksimalkan hidup digolongkan sebagai orang yang paling utama. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW riwayat Ibnu Majah. Dari ibnu Umar, ia berkata, Aku duduk bersama Rasulullah, kemudian datang seorang lelaki Anshar memberi salam kepada Nabi Muhammad SAW, dan berkata, “Ya Rasulullah, orang mukmin mana yang paling utama?”

Nabi Muhammad SAW, menjawab yang terbanyak mengingat kematian diantara mereka dan yang terbaik persiapannya dalam menghadapi kehidupan sesudahnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.

Diantara cara yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan hidup adalah dengan beribadah. Manusia beribadah kepada Allah SWT sebagai bekal yang disiapkan bagi kehidupan sesudah mati, yaitu Akhirat.

Realita yang terjadi pada saat sekarang ini ialah banyak manusia yang melupakan kehidupan sesudah mati dan banyak yang melupakan akan datangnya kematian.

Celakalah bagi siapa yang tidak ingat akan kematian dan bersenang-senang di dunia. Sebelum datangnya kematian marilah persiapkan diri kita dengan pekerjaan-pekerjaan yang di Ridhoi Allah, perbanyaklah mengerjakan amal sholeh yaitu menjaga diri dari segala bentuk perbuatan dosa, kerjakanlah segala pekerjaan dan perbuatan dengan penuh keikhlasan dengan mengharap ridho Allah SWT.

Penutup

Kematian adalah sebuah kepastian, oleh sebab itu tidak perlu takut menghadapinya. Yang terpenting bagi kita adalah mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Wallahu Alam. (Dosen FAI UMSU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *