Mengenal Metode Taman Baca Al Quran Plus

Oleh: Zukarnein Lubis, MA

Salahsatu metode pembelajaran Al Quran adalah Metode TBA Plus. Dalam tulisan kali ini akan menjelaskan tentang metode tersebut dari hasil bacaan yang diambil penulis dari tulisan saudara Junaidi MSi dalam bukunya yang berjudul Metode Pembelajaran Baca Tulis Al Quran 1 dan 2 yang diterbitkan oleh Penerbit Halaman Moeka.

Zulkarnaen LubisMetode TBA Plus adalah nama lain dari metode ABATA Plus. TBA Plus singkatan dari Taman Bacaan Quran, sedangkan Plus berarti lebih. Dengan artian lain bahwa TBA Plus adalah suatu metode yang memiliki kelebihan-kelebihan dari metode lain.

Sedangkan, ABATA Plus adalah huruf hijaiyah yang berurut, sesuai dengan konsep pembahasan dalam metode selalu berurut. Perbedannya adalah metode TBA Plus dicetak sekaligus sebanyak empat jilid, di bawah pengelolaan Taman Bacaan Al Quran IAIN Sumatera Utara (Sumut), dinikmati oleh umat Islam seara umum.

Sedangkan, ABATA Plus dicetak secara terpisah-pisah dan sepaket dengan metode baca tulis ABC Plus, digunakan untuk kalangan sendiri di bawah pengelolaan Yayasan Asah Bakat Group yang didirikan oleh Bisri Mustofa dan Hafiza.

Metode TBA Plus ditulis oleh Bisri Mustofa dan Hafiza (Pasangan Suami Istri). Penulis merupakan alumni Perguruan Tinggi Dakwah Islam Indonesia Jakarta Fakultas Dakwah, sedangkan Hafiza alumni Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta dan LHTQQ Jakarta Program Tahfiz 30 Juz.

Sejak kelas 2 Sekolah Dasar (SD), penulis memulai mengajar mengaji secara turun temurun dan diajarkan bagaimana menjadi guru yang baik oleh orang tua, mewarisi tradisi dan cita-cita orang tua agar selalu tetap Istiqomah dalam perjuangan agama dan Alquran.

Ide untuk menulis metode ini dimulai ketika penulis masih sama-sama kuliah, merasa terpanggil untuk menjawab berbagai persoalan pembelajaran Alquran dengan mencari prinsip-prinsip dasar dan substansi pembelajaran Alquran. Setelah tamat kuliah penulis memulai menulis metode tersebut sekaligus mendirikan yayasan Asah Bakat Group di Riau tahun 2005.

Proses penulisan diawali dengan merekam dan mencatat kembali setiap kejadian dan momentum mengajar selama 27 tahun silam, kemudian mencari solusi pada setiap peristiwa dan kesulitan yang dialami oleh murid ketika penulis metode ini mengajar., sehingga antara metode dan solusi memiliki korelasi yang berkesinambungan.

Setelah itu dilakukan pembuatan kerangka metode. Keteguhan dan kesabaran dalam memegang prisnip member yang terbaik kepada ummat menjadi dasar dari setiap langkah dan gerak dalam setiap kata yang ditulis dalam metode TBA Plus.

Awalnya, oleh penulis metode ini ditujukan untuk orang dewasa, namun justru banyak yang datang anak-anak balita. Akhinrya penulis metode ini merubah format penulisan agar dapat dipelajari oleh semua usia sambil tetap mengajarkan metode yang ada. Satu demi satu siswa menjadi pintar, hanya dalam waktu 3 bulan anak tersebut bisa membaca Alquran dan akhirnya berita ini menyebar.

Hampir setiap bulannya lembaga tersebut menerima dan menamatkan siswa sebanyak 50 orang. Hal ini lah yang menjadikan penulis metode ini menyebarkan metode ini kepada khalayak luas. Untuk melihat seberapa besar respon orang tua dan pengaruh metode terhadap kemampuan siswa. Disebar angket ke 100 perwakilan orang tua siswa sebagai responden dengan tingkat pendidikan rata-rata strata 1.

Setelah diujikan kepada siswa-siswa di lingkungan Yayasan, dilakukan pengujian dari lembaga-lembaga dan orang-orang yang ahli serta memiliki kredibilitas secara akademis, seperti LPTQ Nasional, Lajnah Pentashih Mushaf Alquran Republik Indonesia, kepada para ahli seperti Prof Dr Nasaruddin Umar MA, Dr Ahmad Fathoni MA, Syaikh Zafrullah Khan dan Burhanuddin Muhtadi MA, dari Lembaga Survei Indonesia dari aspek aplikasi.

Semoga informasi tentang metode ini bisa menjadikan inspirasi bagi kita dalam membelajarkan Al Quran. (Dosen UMSU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *