Wuih!!! Bau Busuk dan Ribuan Lalat Hampiri Pemukiman Warga Pematang Gunung

SERGAI (bareskrim.com) | Warga Pematang Guntung meminta penutupan peternakan ayam. Usaha ternak ayam yang terletak di Dusun III Pematang Putus Sialang Buah Desa Pematang Guntung Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) ini dianggap meresahkan warga setempat.

Warga sekitar peternakan ayam, Chairunnas mengatakan, sejak berdirinya usaha ternak ayam di kampungnya, sangat meresahkan. Hal ini disebabkan bau busuk yang sangat menyengat yang kerap terhirup warga.

Dikatakannya, peternakan ayam yang memiliki kandang seluas 6 hektare tersebut, selalu dihinggapi ribuan lalat, yang tentunya menghampiri pemukiman warga.

“Sejak pertama ada peternakan ini, warga selalu protes. Karena kandangnya dekat sekali dengan pemukiman warga. Hanya berjarak beberapa meter. Sudah bau, menghasilkan banyak lalat, tentu ini tidak baik untuk kesehatan warga sini,” ujarnya saat ditemui Tribun Medan, Senin (9/7/2017).

Melalui pantauan wartawan, bau menyengat dari kandang, sangat tercium jelas di area pemukiman warga. Bahkan, di lokasi juga banyak lalat, yang masuk hingga ke dalam rumah warga. Jarak rumah warga dengan kandang peternakam ayam pun sangat dekat.

“Sekarang saja banyak lalatnya, apalagi ini kalau mereka sudah panen. Ribuan lalat hinggap sampai ke dalam rumah warga,” ungkapnya.

Hal yang paling dikesalkan Chairunnas dan warga lainnya, setiap kali ada warga kampung yang melakukan hajatan, kerap terganggu dengan banyaknya lalat.

Disampaikannya, sejak beroperasi pada akhir tahun 2013 lalu, warga sudah mengeluhkan banyaknya lalat. Warga pun sudah melakukan protes, namun tetap saja tidak ada perbaikan, bahkan pengusaha melanggar segala perjanjian yang pernah disepakati.

Chairunnas menerangkan, pada pertemuan warga dengan pengusaha pada tahun 2015 lalu, sudah disepakati adanya 5 poin yang harus dijalankan. Yakni, pengusaha berkewajiban mengatasi bau dan lalat secara maksimal, pemagaran sekaligus penghijauan di sekitar kandang, pengusaha dan warga berkoordinasi masalah keamanan, pengusaha mempekerjakan warga sekitar dan pengusaha memberikan kompensasi senilai Rp 3 juta setiap kali panen.

“Kesepakatan pun tidak dijalankan. Memang keberadaan kadang ayam ini sudah jelas mengganggu, dan meresahkan,” terangnya.

Chairunnas berharap, instansi terkait, dapat menindaklanjuti permasalahan ini. Ia pun meminta setiap stakeholder di pemerintahan, dapat terjun langsung ke pemukiman warga yang sangat dekat dengan peternakan ayam.

“Kita berharap ini dapat diselesaikan. Lihat banyak yang dirugikan, aspek kesehatan sudah jelas terganggu,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengusaha Peternakan Ayam, Arifin mengatakan, ia sudah berkomunikasi dengan warga yang mengeluhkan hal ini. Bahkan, ia sudah mencoba untuk mengambil jalan tengah dari permasalahan.

“Ini kemarin ada minta tolong, agar tidak panen dulu karena ada hajatan. Saya sudah komunikasi dengan baik. Saya juga sudah koordinasikan dengan pihak PT, karena saya kan bermitra. Tapi tidak bisa tidak panen, nanti yang rugi saya. Jadi pihak PT pun nelakukan penyusutan jumlah panen,” ujarnya.

Dikatakannya, selama mendirikan usaha di sana, semua bisa diatasi. Apabila ada lalat dan bau busuk, maka mereka melakukan penyemprotan racun.

“Kalau mereka bilang banyak lalat, dan meminta racun ya kita kasih. Kalau itu kan semua pihak PT yang menjalankan, mulai masuk ayam, pakan, panen dan sebagainya,” katanya.

Diterangkannya, permasalahan kesehatan dan lingkungan hidup, setahu dia selama didirikan kandang tidak menjadi masalah.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Sergai, Fajar Simbolon mengatakan, pihaknya akan langsung melakukan pengecekan ke lapangan. Ia pun akan menelusuri bagaiamana permasalahan serta izin dari peternakan ayam.

“Kalau memang sudah meresahkan warga, tentunya kita akan periksa ke lapangan. Kalau memang meresahkan akan kita tutup itu. Kita akan cek juga bagaimana pengurusan izinnya,” katanya. (rel/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *