Para Tenaga Pengajar Kampus Aceh Tamiang Curhat ke AWDI Soal Honor yang Belum Dibayarkan

ACEH TAMIANG (bareskrim.com) | Beberapa orang tenaga pengajar Kampus Aceh Tamiang curhat kepada Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (DPC AWDI) Aceh Tamiang.

Silaturahmi mereka diterima langsung Ketua AWDI Aceh Tamiang, DM Rizal yang didampingi Wakil Ketua AWDI, Penasehat AWDI dan beberapa rekan media yang tergabung di dalam organisasi kewartawanan itu, di Desa Tanah Terban Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat (19/10/2018).

Para tenaga pengajar Kampus Aceh Tamiang itu curhat terkait honor yang belum mereka terima dari 2017 sampai dengan sekarang, tepat selama 2 semester.

Menurut salah seorang tenaga pengajar yang tidak ingin namanya dipublikasikan, belum dibayarkannya honor mengajar kami ini diduga adanya permainan dan akal-akalan saja. Hal ini dikuatkan dari janji – janji manis para fasilitator.

“Kalau benar karena birokrasi yang buruk ditingkat pusat kenapa para fasilitator tidak mau pertemukan kami kepada pihak pembina (Universitas IPB). Biar kami yang menyampaikan aspirasi secara langsung ke pihak pembina di pusat. Kami berharap agar para fasilitator bisa memfasilitasinya agar bisa bertemu langsung dewan pembina,” katanya dengan nada kecewa.

Masih menurutnya, bahasa fasilitator berupaya agar dibayarkan dengan segera honor tersebut adalah salah satu janji manis yang beberapa waktu lalu dalam rapat sebelumnya juga diucapkan. “Terhitung dari 2017 sampai dengan sekarang kami sudah diajak rapat sebanyak 4 kali tapi hasilnya nihil alias nol besar. Mereka (fasilitator) juga menganggap para tenaga pengajar yang terus memperjuangkan honor ini dianggap sebagai pembangkang. Tentu kami keberatan dengan istilah pembangkang karena kami mengajar dan mendidik mahasiswa agar beretika baik dan punya keterampilan, sehingga bisa bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat bukan produk residivis yang kami hasilkan,” cetusnya.

Para tenaga pengajar mengingatkan honor yang belum dibayarkan selama 2 semester ini segera dituntaskan sebelum berjalannya proses belajar – mengajar tahun ajaran baru 2018-2019.

“Jika pembayaran honor ini tidak terealisasi sebelum tahun ajaran baru, saya yakin ini akan mengganggu dan menghambat proses jalannya Kegiatan belajar mengajar serta mahasiswalah yang menjadi korban,” cetusnya.

Tidak hanya itu dalam rapat kemarin, pada (17/10/2018), para fasilitator yang terkesan membodohi dan mengakali, dimintai untuk membuat surat yang isinya bahwa kedepannya kami bersedia mengajar tanpa mengharapkan imbalan atau honor dan ditandatangani di atas materai 6000. (wdm/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *