Polda Sumut Tangkap 5 Pembunuh 2 Warga Labuhanbatu

MEDAN (bareskrim.com) | Lima pelaku pembunuhan terhadap 2 warga Labuhanbatu, Martua P Siregar alias Sanjay (48) dan Maraden Sianipar (55), ditangkap personel Satreskrim Polres Labuhanbatu bersama personel Jahtanras Subdit III/Umum Direktorat Reskrimum Polda Sumut.

Dari lima pelaku, dua di antaranya terpaksa ditembak betisnya karena melawan dan mencoba kabur saat akan ditangkap.
Kelima pelaku yang ditangkap adalah JKH alias Katimin alias Jamti Hutahean (42), warga Pasar Nagor Dusun 5 Perdagangan, Simalungun, yang merupakan Humas Kebun Kelapa Sawit KSU Amelia. Kemudian, VS alias Pak Revi (55) dan SH alias Pak Tati (55) keduanya, warga Sei Siali Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Labuhanbatu, yang merupakan security kebun kelapa sawit KSU Amelia.
Selanjutnya, DS alias Niel (40), warga Desa Pardomuan Kasindir, Kelurahan Nagori Kasindir, Kecamatan Jorlang Hataran, Simalungun. Niel juga security kebun kelapa sawit KSU Amelia. Terakhir, HP alias Harry (40), warga Jalan Juanda Kelurahan Jati, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Harry merupakan menantu dari salah satu penggarap lahan perkebunan PT Amelia.
Kapolda Sumut, Irjen Agus Andrianto didampingi Direktur Reskrimum Kombes Andi Rian dan Kasubdit III/Umum, AKBP Maringan Simanjuntak mengatakan, awalnya ditangkap VS dari rumahnya pada Selasa (5/11/2019) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Berikutnya, SH sekira pukul 01.30 WIB dari rumahnya juga.
Setelah keduanya, ditangkap DS dari tempat persembunyian di rumah saudaranya Desa Janji, Kecamatan Parlilitan, Humbahas, Selasa (5/11/2019) pukul 19.30 WIB. Lalu, JH di kos-kosan Jalan Jamin Ginting, Kabanjahe, Karo, Rabu (6/11/2019) sekira pukul 22.30 WIB. Sedangkan, Harry diringkus di Komplek Perumahan CBD Kelurahan Suka Damai, Kecamatan Medan Polonia, Kamis (7/11/2019) sekira pukul 14.00 WIB.
“Kelima pelaku yang ditangkap ini memiliki perannya masing-masing,” ungkap Kapolda Sumut, dalam keterangan pers di Mapolda Sumut, Jumat (8/11/2019).
Dijelaskan Agus, otak pelakunya adalah JH yang merencanakan pembunuhan di rumahnya bersama JS (DPO), R (DPO) dan HS (DPO). Rencana tersebut karena menerima instruksi dari Harry, menantu salah satu pemilik PT Amelia, yang menyebutkan kedua korban sedang berada di perkebunan. “Dia (korban) ada di sana, usir segera dan kalau melawan habisi,” jelasnya.
Jamti kemudian merekrut dan mengarahkan DS bersama JS, R dan HS untuk menjaga kebun dari para penggarap. Jika ada yang melawan dan tidak mau diusir maka dibunuh, terutama Maraden Sianipar.
“Untuk pelaku VS dan SH, perannya memukul kedua korban dengan menggunakan kayu bulat panjang sekitar 1 meter, yang didapatkannya dari sekitar lokasi kejadian. Kemudian, menarik korban dan memasukkan ke dalam parit bekoan,” papar Agus.
Sementara, pelaku DS berperan menerima perintah dari otak pelaku untuk menghabisi nyawa kedua korban. Selain itu, merekrut R, HS, dan JS untuk ikut menghabisi nyawa kedua korban.
“Barang bukti yang diamankan dari kelima pelaku, 1 unit Honda Revo warna hitam liris biru BK 5158 VAB, 1 unit Honda Supra X dengan nomor polisi BK 2220 IO, 1 potong kaos dalam berlumuran darah, 1 potong kaos warna hitam, 1 sepeda warna coklat sebelah kiri dan 5 unit handphone yang digunakan tersangka,” sebut Agus.
Ia menambahkan, kelima pelaku dijerat Pasal 340 junto Pasal 338, Pasal 55, dan 56 KUHP, dengan ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun penjara.
“Kasusnya masih dikembangkan karena masih ada beberapa pelaku lagi yang belum ditangkap,” katanya. (amri/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *