Komite Keselamatan Jurnalis Pastikan Dua Korban Pembunuhan di Labuhanbatu bukan Wartawan

MEDAN (bareskrim.com) | Komite Keselamatan Jurnalis pastikan dua korban pembunuhan Maratua P Siregar alias Sanjai (42) dan Maraden Sianipar (55) yang ditemukan tewas di areal perkebunan di Perkebunan Sawit KSU Amelia, Dusun VI Sei Siali, Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, bukan wartawan.

Kematian keduanya pun diyakini bukan terkait dengan pemberitaan atau pun dalam menjalankan tugas jurnalis.
Kepastian ini setelah Komite Keselamatan Jurnalis mengumpulkan bukti dan keterangan terkait kematian keduanya yang dikaitkan dengan profesi sebagai jurnalis.
“Berangkat dari dugaan bahwa korban berprofesi sebagai wartawan, maka Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan membentuk tim investigasi untuk melakukan proses verifikasi,” tutur Ketua AJI Medan Liston Damanik dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/11/2.19).
Katanya, sejumlah bukti dan keterangan pun dihimpun untuk memastikan dan membenarkan profesi keduanya wartawan atau tidak. Penelusuran, Maraden Sianipar merupakan mantan calon legislatif saat Pileg 2019 lalu dari Partai NasDem. Ini diperkuat pengakuan Ketua Partai NasDem Labuhanbatu, Arsyad Rangkuti.
Sedangkan Maratua, klarifikasi dilakukan terhadap organisasi-organisasi profesi yang sebelumnya mengeluarkan pernyataan sikap terkait kematian keduanya, media pers yang disebut tempat korban bekerja.
“Keterangan dari Pemimpin Redaksi Pindo Merdeka, korban Maratua alias Sanjai Siregar bergabung dengan Pindo Merdeka sejak 2016. Namun hanya sekitar setahun. Setelah itu tidak lagi menjadi wartawan Pindo Merdeka,” sebutnya.
Dari keluarga pun mengakui, jika Maratua sehari-hari hanya sebagai seorang petani ladang warisan keluarga di Sei Berombang, Panai Hilir, Labuhanbatu. Maratua dipekerjakan oleh Maraden karena pada masa Pileg 2019, suaminya itu bekerja sebagai tim sukses.
“Berdasarkan keterangan para saksi yang diwawancarai tim AJI Medan, kami menyimpulkan Maratua P Siregar alias Sanjai dan Maraden Sianipar tidak berprofesi sebagai jurnalis. Atas dasar tersebut, kami menyimpulkan kasus pembunuhan ini bukanlah kasus kekerasan terhadap jurnalis,” tegasnya.
Sisi lain, Komite Keselamatan Jurnalis mendorong kepolisian mengusut kasus ini secara tuntas dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Termasuk mengejar 3 terduga pelaku yang masih belum tertangkap.
Terkait kasus ini, polisi telah menangkap lima pelaku. Sedangkan tiga pelaku lainnya, masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atas nama JS (20), RP alias Riki (20) dan HS (38). (amri/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *