Selayang Pandang ‘Kampung Berwarna’ di Belawan

MEDAN (bareskrim.com) | Bila anda berdiri di tepi pantai kawasan Uni Kampung Belawan, anda mungkin akan terkesima saat melihat kampung berwarna di seberang lautan.

Betapa tidak, kampung yang dihuni  2281 jiwa yang dulunya disebut sebagai Kampung Nelayan Seberang itu, kini dipenuhi beranekaragam warna yang menghiasi atap rumah warga setempat sehingga menimbulkan rasa penasaran.

Rasa penasaran itu pula yang mendorong awak media datang ke lokasi itu untuk melihat lebih dekat tentang keunikan kampung tersebut.

Namun, untuk mencapai tempat itu, kita harus menaiki perahu mesin (boat) yang memang tersedia di sana dengan tarif Rp 3 ribu per orang.

Hanya hitungan menit, kami pun sampai di lokasi dan disambut dengan salam sapa warga setempat. Namun sayang, meskipun kampung tersebut terlihat indah dari jarak jauh, ketika dilihat dari dekat, masih banyak yang perlu dibenahi di kampung ini jika memang kampung ini akan diproyeksikan menjadi kampung wisata.

Demi mengetahui lebih jelas tentang kampung tersebut kami langsung menemui sang Kepala Lingkungan ‘Kampung Berwarna’ bernama Sarawiyah (33), di rumahnya pada Ahad (5/1/2020).

Kepada kami, Sarawiyah mengakui awal berwarnanya atap rumah warganya itu tak terlepas dari bantuan pihak Danlantamal I Belawan yang berinisiasi untuk memperindah kampung yang 90 persen warganya tersebut berprofesi sebagai nelayan, sekaligus untuk meningkatkan ekonomi warga.

Akan tetapi, niat luhur pihak Lantamal I Belawan tersebut belum sepenuhnya terwujud lantaran masih banyak kendala yang dihadapi terutama belum terkelolanya sampah, di pemukiman tersebut sehingga mengurangi keindahan.

Selain itu, kondisi rumah warga yang belum tertata rapi sehingga memberi kesan kurang mendukung. “Jadi masalah pengelolaan sampah masih kendala besar di daerah saya ini,” ujar Sarawiyah.

Sebagai pimpinan di wilayah tersebut dia mengaku kerap melakukan koordinasi dengan pimpinannya, namun sejauh ini masih sepenuhnya terkendali. Masalah lain yang muncul soal legalitas kampung ini juga masih belum jelas.

Masalahnya, secara teritorial kampung ini masuk dalam wilayah Deliserdang, namun warganya punya kartu tanda penduduk (KTP) Medan, sementara lahan yang mereka tempati saat ini milik Pelindo I.

“Masalah ini sudah menjadi pembicaraan tapi belum ada keputusan,” bilang Sarawiyah.

Lebih lanjut Sarawiyah mengatakan, dengan kondisi seperti ini pihaknya sulit untuk menerima bantuan seperti Anggaran Dana Desa (ADD) atau Kelurahan yang mengucur setiap tahunnya.

“Jadi, untuk membantu pembangunan di kampung ini hanya mengharap bantuan beberapa instansi seperti Pelindo I, dan Danlantamal Belawan serta lembaga yang memang punya kepedulian terhadap kampung ini,” sebutnya.

Satu hal lagi, sambung Sarawiyah, pengaruh peredaran narkoba di kawasan ini turut pula menambah rumitnya persoalan yang harus dihadapinya. Namun dia punya tekad untuk meminimalisir peredaran narkoba di daerah ini, bahkan sempat dia melakukan tindakan tegas dengan memperingati para oknum yang terlibat peredaran narkoba

“Kalau sudah saya peringati keras para oknumnya, sempat sebentar sepi pak, tapi beberapa bulan kemudian mulai lagi,“ sebutnya.

Di kampung yang warganya berekonomi lemah ini, tambah Sarawiyah, sarana pendidikan paling tinggi masih setingkat SD, sementara SMP dimiliki pihak swasta yang diperuntukan bagi siswa yang kurang mampu untuk pergi sekolah ke luar kampung mereka.

“Ya disini kalau mau bepergian kan harus naik boat, nah bagi yang tidak mampu terpaksa sekolah SMPnya disini saja,” ujarnya.

Diakhir wawancaranya, Sarawiyah sebenarnya bangga kalau daerahnya bisa dijadikan destinasi wisata, namun untuk saat ini, dia mengatakan masyarakatnya belum siap dalam semua aspek.

“Belum siap, semuanya masih butuh warktu untuk mewujudkannya,” kata kepala lingkungan 12 ini. (amri/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *