Siswa TK Jabal Rahmah Mulia Dikenalkan Menjaga Kesehatan Gigi Sejak Dini

MEDAN (bareskrim.com) | Budaya memelihara kesehatan gigi sejak usia dini perlu ditanamkan sejak dini bagi anak-anak.

Untuk itu, para staf pengajar TK Jabal Rahmah Mulia, Jalan Ringroad Medan mengajak murid-muridnya mengunjungi Dental Care The Clinic Beautylosophy, Jalan Sekip Medan, Kamis (13/2/2020), agar terbiasa memeriksakan kesehatan giginya.

Kunjungan anak-anak TK ini dipimpin oleh Kepala Sekolah TK Jabal Rahmah Mulia, Astarie Anastasia didampingi Desiy Mayasari, guru TK.

Anak-anak berusia sekira 3-4 tahun itu terlihat sangat antusias dan senang dapat melihat secara langsung sejumlah peralatan kebanggaan Dental Care The Clinic Beautylosophy.

Kepala Sekolah TK Jabal Rahmah Mulia, Astarie Anastasia mengatakan, kegiatan ini merupakan agenda rutin sekolah untuk pengenalan profesi secara dini kepada anak-anak agar mengenal lebih dekat sejumlah peralatan klinik gigi dan mengetahui profesi seorang dokter gigi.

“Kebetulan klinik gigi salah satu tujuan kami pada hari ini. Mereka kami bawa agar mengenal lebih dekat apa itu tugas-tugas seorang dokter gigi beserta peralatannya. Ada juga yang ke pemadam kebakaran, markas Yonkav dan lainnya,” kata Astarie.

Melalui kunjungan ini Astarie berharap, kedepannya siswa/i TK Jabal Rahmah Mulia yang dibawa sebanyak 32 orang itu akan lebih memahami bagaimana cara-cara menjaga kesehatan dan melakukan perawatan gigi serta tidak takut lagi saat mengunjungi dokter gigi.

Selama berada di klinik kesehatan gigi, para siswa dikenalkan berbagai informasi tentang kesehatan gigi secara sederhana dan menarik yang disampaikan oleh drg Suwita, selanjutnya pemeriksaan gigi dilakukan oleh drg Andri Prayuga dan drg Aflah Triana.

Dalam kesempatan itu, Drg Suwita menyatakan, ketika seorang anak memasuki usia 3 tahun maka sudah bisa diberi pengenalan kepada dokter gigi. Lalu saat usia 5 tahun pertumbuhan gigi anak-anak juga sudah mulai terlihat permanen.

“Memasuki usia 5 tahun sudah terlihat terlihat permanen atau fase gigi bercampur.Jadi di usia ini bisa dimulai tindakan-tindakan untuk mencegah gigi berlubang,” kata Suwita.

Fase gigi bercampur ini lanjut Suwita, merupakan hal sangat penting diketahui oleh para orangtua agar membawa anak-anak mereka ke dokter gigi untuk dilakukan tindakan pencegahan gigi berlubang.

“Sama seperti orang dewasa, idealnya 6 bulan sekali kita wajib memeriksakan gigi anak-anak,” papar drg Suwita.

Begitupun lanjut Suwita terkadang
sebagian besar anak-anak merasa ketakutan dan enggan jika diajak ke dokter gigi. Sepertinya dokter gigi tampaknya memiliki imej menyeramkan bagi anak-anak.

“Dalam hal ini orangtua turut sangat berperan penting. Tak jarang orangtua memukul dan mengancam anak jika tidak mau menggosok gigi maka akan dibawa ke dokter gigi. Ini membuat anak trauma seolah-olah dokter gigi itu memiliki imej menyeramkan.Cara-cara seperti ini yang harus dihilangkan. Menghadapi anak yang tidak mau ke dokter gigi orangtua harus sabar tidak boleh main pukul dan mencubit,” tandasnya. (rel/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *