Pengusaha Truk Pengangkut CPO Kecewa | Lagi-lagi Kena Razia

MEDAN (bareskrim.com) | Pihak Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Subulussalam, Polda Aceh, yang menggelar operasi/razia kenderaan bermotor di dekat Mapolres Subulussalam Jalan T Umar, baru baru ini sempat menuai kecewa dua pengusaha truk pengangkut CPO, di sana.

Pasalnya, empat unit mobil tanki yang bermuatan crude palm oil (CPO) milik mereka yang terkena razia lalu ditilang dan ditahan dengan alasan kelebihan muatan dan tidak sesuai dengan dokumen dari pabrik.

“Surat tilang yang diberikan berwarna hijau, dan tanpa diberikan berita acara penyitaan truk ditahan,” ujar marga Manurung, salah satu supir mobil tanki kepada awak media di Medan, Kamis (27/2/2020).

Menurut pihak kepolisian, kata Manurung, surat tilang warna hijau diperuntukkan untuk arsip pengadilan. Surat ini juga berfungsi sebagai proses tindak lanjut pelanggaran tersebut sampai perkara selesai.

Dikatakan Manurung, awalnya mobil tanki pengangkut CPO yang dikemudikannya bersama tiga mobil tanki CPO lainnya melintas di jalan nasional lintasan barat Sumatera tepatnya Jalan T Umar Subulussalam, di stop personel Satlantas yang tengah menggelar razia. Dengan alasan kelebihan muatan berdasarkan dokumen pabrik kemudian STNKnya di tilang.

“Truk tanki tersebut tidak diberikan izin untuk melanjutkan perjalanan tetapi langsung di giring petugas ke Polres Subulussalam,” jelas Manurung.

Sesampainya di Polres, sambung Manurung, STNK dikembalikan kepada supir tetapi truk tankinya tetap di tahan.

Lebih lanjut Manurung, selain itu supir diminta untuk hubungi pengurus atau pemilik truk agar dapat datang untuk ketemu dengan alasan mau perkenalan karena Polres baru.

“Setelah pengurus datang untuk negoisasi dan menitipkan biaya tilang dan kesepakatan upeti bulanan serta surat tilang ditarik kembali maka truk tangki dipersilakan melanjutkan perjalanan,” ungkap Manurung.

Akan tetapi, sekitar dua minggu berjalan pihak kepolisian melakukan penindakan dengan mengamankan kembali ke empat mobil tanki tersebut pada (25/2/2020).

“Tindakan itu jelas sangat merugikan pihak pengusaha angkutan,” tegas Manurung.

“Kemungkinan para pengusaha angkutan ingkar terhadap kesepakatan yang telah disepakati bersama,” sebut Manurung menduga.

Adapun armada yang ditahan adalah 1 (satu) unit armada angkutan Perusahaan KM dan 3 (tiga) unit armada angkutan BDA.

Terkait hal ini, Kasat Lantas Polres Subulussalam, AKP Wiet Dasmara yang dikonfirmasi, Kamis (27/2/2020) malam lewat whatsapp mengatakan, itu bukan tangkap lepas pas itu kita tilang pak. Setelah pelanggar bayar ke bri kita lepas lagi pak, tulisnya. (amri/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *