Hasil Autopsi Cokna Meninggal Akibat Lemas Kekurangan Oksigen

MEDAN (bareskrim.com) | Dugaan pihak keluarga Abdi Jaya Ginting alias Cokna (28), yang menganggap kematian Cokna lantaran disebabkan penganiayaan oleh personel polisi, kini terjawab sudah.

Sebab, menurut Hasan Petrus, dokter spesialis forensik Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik, Medan, bahwa kematian Abdi Jaya Ginting alias Cokna karena mati lemas akibat penyakit paru dan hati (lever) yang dideritanya.

Pernyataan itu disampaikan dr Hasan Petrus pada paparan kasusnya di depan gedung Ditreskrimum Polda Sumut, Rabu (23/9/2020).

“Korban meninggal dunia karena lemas kekurangan oksigen dan akibat penyakit paru-paru dan hati atau lever yang dideritanya,” kata Dokter Hasan didampingi Direktur Reskrimum Polda Sumut, Kombes Irwan Anwar.

Lebih lanjut dikatakan Dokter Hasan, bahwa luka memar yang ada di tubuh korban akibat pergumulan dengan petugas saat dilakukan penangkapan terhadap korban.

“Tidak ada tanda kekerasan di sekujur tubuh korban. Kalaupun ada itu akibat pergumulan antara korban dengan personel polisi saat proses penangkapan,” ungkap Dokter Hasan yang juga didampingi Kapolresta Deliserdang, Kombes Yemmi Mandagi dan Kasat Narkoba Polresta Deliserdang, AKP Ginanjar Fitriadi SIK.

Dijelaskan Dokter Hasan, guna memastikan penyebab kematian korban, pihaknya juga mengambil beberapa organ tubuh dan darah korban untuk diperiksa.

“Hasilnya, kita menemukan zat amphetamine yang terkandung dalam narkotika jenis sabu-sabu di dalam lambung korban.

Sekali lagi saya tegaskan, bahwa tidak ada ditemukan kekerasan di tubuh korban yang disebut-sebut menyebabkan kematiannya. Namun korban tewas murni akibat lemas kekurangan oksigen,” jelas Dokter Hasan.

Sebagaimana diketahui, Cokna ditangkap setelah rekannya berinisial THF ditangkap terlebih dahulu, tepatnya Kamis 10 September 2020. Oknum polisi ini ditangkap personel Satresnarkoba Polresta Deliserdang diseputaran kediamannya, Jalan Pertahanan Komplek Perumahan Sigara-Gara, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deliserdang.

Atas penangkapan THF, kepolisian melakukan pengembangan dan keesokan harinya, Cokna ditangkap dengan barang bukti satu paket sabu dikemas plastik klip transparan ditaksir seberat 113 Gram di kantong depan sebelah kanan dan satu unit telepon seluler.

Namun, setelah ditangkap dia kejang kejang. Selanjutnya, petugas membawa Cokna ke rumah sakit. Setelah beberapa saat, dia meninggal dunia.

Terkait kematian yang diduga tidak wajar itu, orangtua Cokna, Rosmiati membeberkan bahwa anaknya itu tewas karena diduga dianiaya oleh personel kepolisian anti narkoba Polresta Deliserdang.

Sebab, kata dia, Cokna tidak pernah mengalami sakit apapun. Selain itu, dugaan adanya penganiayaan itu terlihat dari luka-luka di sekujur tubuh dan wajah Cokna.

Ungkapan itu disampaikan oleh Rosmiati ketika mendatangi Mapolda Sumut, Jalan Sisingamangaraja KM 10,5 Kecamatan Medan Amplas, Senin (21/9/2020).

Tujuan wanita ini datang ke Mapolda Sumut untuk menindaklanjuti laporan polisi yang telah dibuatnya, paska anaknya tewas dengan kondisi banyak luka ditubuhnya. Kemudian, dia juga berharap agar kasus itu dapat diungkap secara terang benderang. (amri/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *