Prodi S2 Linguistik FIB USU Mengkaji Korpus dan Big Data Dalam Kuliah Daring

MEDAN (bareskrim.com) | Program Studi Magister Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya USU kembali mengadakan Kuliah Daring mengkaji Linguistik Korpus dan Big Data, 28 September 2020.

Kuliah daring ini mengangkat tema ‘Linguistik dan Big Data: Apa Kontribusi Kita?’ merupakan rangkaian acara kuliah daring Ilmu Linguistik se-Indonesia yang bekerjasama dengan APMALI (Asosiasi Program Magister Linguistik Indonesia).

Prodi Linguitik bekerjasama dengan UI, ADI, APMALI, IAL dilakukan berseri menjadi salah satu program kerja APMALI yang akan dilaksanakan setiap dua bulan sekali.

Ketua APMALI, Dr Suhandano MA mengharapkan, program kuliah daring dapat dilanjutkan oleh anggota APMALI, yaitu Program Studi Ilmu Linguistik FIB UGM, UI, UNPAD UNDIP, UB, UNAIR, UNAND, UNHAS, UNEJ, UNUD, UNWAR, UNSRAD.

Narasumber kuliah daring seri I ini adalah Totok Suhardijanto MHum PhD yang merupakan Peneliti Bahasa Universitas Indonesia sekaligus Ketua Departemen Linguistik FIB UI.

Turut hadir Ketua APMALI, Dr Suhandano MA; Ketua Prodi Ilmu Linguistik UGM; Kaprodi Ilmu Linguistik FIB USU Dr Eddy Setia MEd TESP dan Dekan FIB Prof Dr Ikhwanuddin Nasution MSi.

Prof Ikhwanuddindalam sangat mengapresiasi Prodi Ilmu Linguistik S2 dan S3 yang sangat aktif menggelar kuliah daring.

“Ini sebagai bukti kalau fungsionaris Prodi memiliki semangat dan kreasi lain dari prodi yang ada yang ada di FIB. Kami sangat mendukung, semoga akan lahir kuliah-kuliah daring yang ditunggu oleh insan akademis di Indonesia, terkhusus akan bermanfaat baik bagi dosen dan mahasiswa di FIB,” ujarnya.

Dr Eddy Setia MEd TESP berharap, kuliah daring ini dapat memicu para mahasiswa S2 dan S3 untuk mau meneliti kajian bahasa dengan analisis korpus.

“Kami akan konsen dan terus berbuat melalui berbagai kegiatan akademik, agar memberikan masukan dan dorongan bagi dosen dan mahasiswa linguistik di Indonesia, terutama di FIB USU, untuk meminati kajian bahasa. Sehingga kajian bahasa akan terus berkembang, dan terus berkontribusi bagi pengambangan kajian bahasa di Indonesia,” ujar Eddy.

Dalam kuliah daring, Totok menyampaikan, jumlah data yang dihasilkan pada era digital ini sangatlah banyak dan terus menerus bertambah seiring penggunaan gawai yang terus menerus.

Sebagian besar dari data berupa data lingual. Data yang berjumlah sangat banyak ini atau yang kita kenal dengan istilah big data menjadi sia-sia jika tidak dimanfaatkan dengan baik.

Namun, data yang ada tidak terbatas pada data yang terdapat di dunia maya, data melalui buku, artikel ilmiah dan berbagai macam genre teks lain juga dapat menjadi sumber data.

Untuk memanfaatkan data ini diperlukan keterampilan teknologi informatika untuk mengolah dan mengelola data dengan pengetahuan tertentu.setiap data yang ada dijadikan dalam bentuk digital kemudian di susun menjadi sebuah ‘korpus’.

Linguistik korpus merupakan sebuah pendekatan empiris atau metode. Walaupun masih menjadi perdebatan apakah merupakan sebuah teori atau bukan.

Jika dibedakan corpus driven itu menggunakan korpus sebagai sebuah teori sementara corpus-based menganggap korpus itu sebagai sebuah metode guna mengeksplorasi sebuah teori, dan menolak atau sebagai kritik.

“Yang harus kita sadari adalah linguistik korpus dan corpus tool bukan entitas yang serba bisa. Manusia sebagai peneliti, pengamat, dan pengguna harus dapat menjadi rasional bagi alat ini,” ujar Totok.

Linguistik korpus tidak lepas dari kekurangan salah satunya adalah data tidak tersaring dengan baik. Linguistik korpus tidak mampu untuk memunculkan data-data spesifik yang unik namun pada saat yang bersamaan linguistik. Korpus mampu menampilkan data dalam jumlah yang sangat besar, rill dan autentik.

Tergantung pada tujuan yang ingin dilakukan korpus itu dapat kita gunakan yang sudah ada atau menggunakan korpus yang kita buat sendiri.

Di era digital ini jumlah data yang ada sangatlah banyak bahkan sangat sulit untuk diolah oleh manusia untuk itulah linguistik korpus ada. Perkembangan ilmu linguistik modern disemarakkan dengan kemunculan suatu cabang ilmu yang relatif baru, yaitu linguistik korpus.

Ilmu ini secara khusus meneliti bahasa melalui seperangkat data yang bersifat alamiah, riil sesuai penggunaannya, baik itu data tulisan maupun data lisan yang ditranskripsikan. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *