Perkembangan Anak-anak Bantaran Sungai Deli Perlu Diperhatikan

MEDAN (bareskrim.com) | Derita masyarakat yang tinggal di kawasan bantaran sungai nyaris tak henti. Cuaca ekstrem dan hujan dengan intensitas tinggi menjadikan beberapa kawasan di kota Medan dihantam banjir. 

Khusus warga yang berdiam dibantaran sungai air mencapai hingga 3 meter dan menenggelamkan pemukiman mereka.

Melihat derita yang dirasakan masyarakat di kawasan bantaran sungai itu maka HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) Sumatera Utara bersama PW Aisyiyah Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulanan Bencana (PWA LLHPB) dan Muhammadiyah Disaster Managemen Center (MDMC) ikut turun tangan memberikan sentuhan dalam bentuk kegiatan traumatic healing, konsultasi psikologi, pemeriksaan kesehatan dan pemberian santunan dalam bentuk beras, mie instan dan sabun serta makan siang.

Kegiatan di bantaran sungai itu dibantu oleh tim Kopasude (Komunitas Peduli Anak dan Sungai Deli) yang selama ini dikenal aktif memberikan pendampingan kepada penduduk di kawasan bantaran sungai Jl Badur, Medan.

Aksi berlangsung, 16 Desember 2020, dihadiri beberapa tokoh masyarakat seperti Ustadz Ridwan dan Syafri Tanjung (Icap) dua tokoh Muhammadiyah dari bantaran sungai Deli  serta Hendra, Pengurus Sanggar Silaturahim.

BACA JUGA

Gallery Minang Neka Sediakan Produk Khas Minangkabau

Ada empat titik lokasi rawan yang berada di bantaran sungai Deli, mulai bantaran Jln Mantri, Jalan Meriam, Kampung Aur dan Jln Badur. Ke empat lokasi ini memiliki permasalahan yang sama, yang kemiskinan, kesehatan dan gizi, pemukiman, pendidikan dan keberagamaan.

Kehadiran HIMPSI, Aisyiyah dan MDMC diharapkan dapat menjadi jembatan pada upaya perlindungan kehidupan masyarakat yang selalu terancam dengan banjir dan persoalan sosial lainnya.

Persoalan Psikososial

Sekretaris HIMPSI Sumatera Utara Laili Alfita SPsi MPsi mengatakan, HIMPSI memiliki berbagai program kegiatan kemanusian. Lokasi bantaran sungai Deli di Jalan Badur Kecamatan Medan Maimun itu, jelas Laili sangat menarik karena di sini banyak persoalan psikososial yang ditemukan. 

Perkembangan anak di kawasan itu perlu mendapat perhatian, demikian juga dengan persoalan kehidupan banyak rumah tangga di sana.

BACA JUGA

Demi Proyek Kota Deli Megapolitan | Pesiunan PTPN 2 Diintimidasi Kosongkan Rumah

Untuk itulah, HIMPSI Sumatera Utara perlu menerjunkan sebanyak 10 orang psikolog untuk ikut membantu mengatasi persoalan psikososial yang muncul di lokasi banjir itu.

Hal senada disampaikan Sekretaris LLHPB PW Aisyiyah Sumatera Utara Sri Ngayomi MPsi, dimana persoalan psikososial menjadi persoalan serius bagi masyarakat yang berada di bantaran sungai Deli.

Bagi Aisyiyah, peduli korban banjir tidak hanya pada peyediaan bahan makanan tapi lebih dari itu, yakni persoalan traumitic. Untuk itulah Aisyiyah bersama HIMPSI turun tangan mengurusi persoalan psikososial yang muncul.

Sementara itu, Pimpinan MDMC PW Muhammadiyah Sumatera Utara, Irsan Asmadi menjelaskan, selain memberikan bantuan kepada keluarga yang terdampak banjir di Jalan Badur, MDMC juga turun ke beberapa lokasi lain di Medan.

Pengurus HIMPSI menyerahkan bantuan berupa beras, mis instan dan sabun kepada warga yang berada dipinggiran sungai Deli.

Restorasi Sungai Deli

Bersamaan dengan kegiatan HIMPSI, Aisyiyah dan MDMC Peduli itu, tampak terlibat satu komunitas yang secara konsisten memberikan perhatian dan pendampingan kepada anak-anak yang bermukim di bantaran sungai Deli.

Komunitas itu bernama KOPASUDE atau Komunitas Peduli Anak dan Sungai Deli). Naila Azmi Dalimunte, alumni Fakultas Sastra USU mengatakan, persoalan sungai deli adalah persoalan restorasi.

Restorasi sungai yang memiliki riwayat panjang Kota Medan itu mendesak dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah kota.

BACA JUGA

Muhammadiyah Bantu Korban Kebakaran Nias

Pesatnya perkembangan kota dengan bangun beton yang berada dipinggiran sungai menjadikan sungai Deli mengalami kerusakan parah.

Kata Naila, aliran sungai yang menyempit dan bahkan mengubah bentuk aliran menjadikan sungai semakin tidak nyaman.

Naila dan Kopasude meminta kepada pemerintah untuk bersama masyarakat di bantaran sungai untuk membahas secara bersama persoalan yang dihadapi.

”Menggusur penduduk dipinggiran sungai bukan solusi terbaik melainkan melakukan penataan dan penerapan regulasi secara konsisten terhadap semua bentuk bangunan yang berada dipinggir aliran sungai,” katanya.

Hendra pengurus Sanggar Silaturrahim Kampung Badur yang berada persis di tepi sungai mengatakan, dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di Sanggar paling tidak dapat membantu aktifitas anak-anak di sana berbagai kegiatan, sepeti pengajian, belajar bersama.

”Kita berharap anak-anak di sini bisa diselamatkan dari berbagai macam persoalan kenakalan anak dan remaja,” kata Hendra. (rel/B)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *