HeadlineIndeksKriminalitas

Dianiaya OTK | Aktivis Aspal Mengadu ke Polda Sumut

MEDAN (bareskrim.com)| Lagi, aksi intimidasi berujung penganiayaan terhadap aktivis kembali terjadi di Sumut. Setelah sebelumnya aktivis anti korupsi, Fakhrurozi dikeroyok karena menyoroti dugaan korupsi di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Kali ini menimpa aktivis lainnya di Kabupaten Langkat.

Warga Dusun II Hulu Besilam, Desa Besilam, Kecamatan Padang Tualang, Langkat ini dianiaya sejumlah pemuda berpakaian OKP seusai pulang dari audiensi dengan Bupati Langkat, Tertib Rencana Peranginangin di kantor bupati, Stabat, Langkat, Senin (15/2/2021) siang.



Fikri mengatakan, aksi penganiayaan itu jelas mengarah kepadanya dan kelompoknya karena terus ‘merecoki’ infrastruktur terutama sarana jalan umum yang sangat buruk selama dua tahun kepemimpinan Terbit Rencana Peranginangin hingga menjulukinya, ‘jalan sejuta lubang’ di Kabupaten Langkat.

“Usai audiensi kami singgah ke cafe di Jalan Sudirman, Stabat dan saat turun dari sepeda motor tiba-tiba saya dihampiri dua pemuda memakai masker, topi, dan berkacamata berbaju OKP langsung memukuli, menendang, dan memijak kepala saya dan mereka mengancam saya dengan kata ‘jangan campuri urusan Bupati Langkat’,” kata Fikri seusai membuat laporan resmi ke SPKT (sentra pelayanan kepolisian terpadu) Poldasu dengan Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomor:STTLP/347/II/2021/Sumut/SPKT “I” ditandatangani Ka SPKT ub Ka Siaga I Kompol Saiful, Senin (15/2/2021) malam.

BACA JUGA

Bupati Langkat Sambangi Kantor Ditreskrimum Polda Sumut | Ada Apa Ya?

Fikri mengatakan, awalnya ia difasilitasi Zainuddin Purba, anggota DPRD Sumut untuk bertemu dengan Bupati Langkat terkait ‘jalan sejuta lubang’ yang disoal Aspal tadi. Audiensi pun disepakati pada Senin pagi itu. Saat masuk ke kantor bupati, Fikri dan kawan kawan pun sudah disambut sejumlah pemuda berpakaian OKP tadi.

Hasil dalam pertemuan yang langsung dihadiri Bupati Langkat didampingi wakil bupati, sekda, asisten pemkab, Kadis Perhubungan, Kadis PUPR, anggota DPRD Sumut, Zainuddin Purba dan anggota DPRD Langkat, Edy Bahagia Sinuraya itu, bupati meminta jangan masalah ‘jalan berlubang’ saja yang dipersoalkan, masih banyak masalah lain seperti narkoba yang lebih penting.



“Bupati mengaku keterbatasan anggaran sehingga meminta kami jangan terus meributi jalan yang rusak. Oke, itu bisa kami terima. Namun ada ucapan wakil bupati yang aneh dengan menyebut ‘Kalian bersyukur bisa datang ke sini pakai kaos, sementara kami pakai baju batik apalagi Pak bupati batiknya bermotif kepala macan, artinya kalian sudah masuk ke sarang macan’,” beber Fikri menirukan perkataan wakil bupati tadi.

Rasa tidak aman sudah dirasakan aktivis yang masih berstatus mahasiswa ini. Sebab, saat hendak pulang, beberapa ban sepeda motor rekannya sudah kempes. Hingga ujungnya adalah penganiayaan yang dialami Fikri yang hanya berjarak 1,5 Km dari kantor bupati.



“Atas kejadian ini saya pribadi meminta perlindungan kepada para penegak hukum karena saya yakin ini terjadi terkait dengan apa yang kami ributi di Kabupaten Langkat,” kata Fikri.

Sementara, Iqbal Zikri SH selaku kuasa hukum Fikri, berharap Poldasu langsung merespon laporan kliennya ini agar tidak terjadi lagi aksi penzoliman terhadap aktivis dan mahasiswa lainnya.

“Kami sangat berharap pelakunya segera tertangkap sehingga menguak motif penganiayaan terhadap aktivis ini,” pungkasnya. (amri/B)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button