EkonomiHeadlineIndeks

Hotel Aryaduta Medan Dikomplain Tamu

MEDAN (bareskrim.com) | Hotel Aryaduta yang berkas di Jalan Kapten Maulana Lubis Medan dikomplain tamu gegara dugaan penggelapan uang pembayaran kamar pengunjung.

Komplain tersebut datang dari Ketua DPD Barisan Mahasiswa (BM) Bapera Kota Medan, Samuel Jhonatan menjadi tamu untuk menginap di hotel berbintang itu selama 4 malam.

Kepada awak media, Samuel mengatakan, dugaan penggelapan yang dilakukan manajemen Hotel Haryaduta Medan terungkap saat kader Barisan Pemuda Nusantara (Bapera) menginap selama 4 malam, mulai Minggu tanggal 4 Juli sampai dengan Kamis, 8 Juli 2021.

“Bukti pembayarannya untuk 6 kamar ada 2 versi. Kedua bukti sudah kita dapatkan. Dari bukti pertama jumlahnya berbeda dengan yang kedua. Jika tidak kita desak ini, dugaan penggelapan ini tak terungkap. Uang yang diduga digelapkan manajemen hotel sebesar Rp 5 juta,” ujar Samuel Jhonatan, Selasa, 13 Juli 2021.

Dari 2 versi bukti pembayaran uang kamar itu, lanjut Samuel, bukti pembayaran pertama yang dikeluarkan sebesar Rp 27.715.910,00 dan bukti pembayaran kedua sebesar Rp 32.709.510,00.

“Bapera Medan membayar sebesar Rp 32 juta. Alasan yang mereka bilang, yang Rp 5 juta itu untuk biaya potong atas. Saat kami desak potong atas untuk apa, manajemen tak bisa menjelaskan, lalu mereka keluarkan lagi bukti pembayaran yang asil sesuai yang dibayar Bapera sebesar Rp 32 juta,” terang Samuel.

BM Bapera Medan, kata Samuel, berancana akan melakukan aksi damai di depan Hotel Aryaduta yang berada persis di sebelah Kantor Walikota Medan pada pekan depan.

“Aksi damai ini untuk memberikan efek jera kepada manajemen, dan meminta pemilik hotel mengganti GM hotelnya bernama Rendy yang dinilai tidak profesional,” tegasnya.

GM Hotel Aryaduta, Rendy yang dikonfirmasi membenarkan, kader Bapera ada menginap di hotelnya.

“Iya, ada mereka menginap. Sudah saya jelaskan dengan kepada ketuanya Pak Abdul Rahman. Saat saya jelaskan Pak Rahman marah, dan dia akan membawa persoalan ini ke polisi. Saya katakan silahkan, nanti saya jelaskan sama polisi,” kara Rendy.

Rendy juga membeberkan, soal biaya potong atas Rp 5 juta yang menjadi penyebab dugaan penggelapan itu karena sistem manajemen hotel.

“Itupun sudah saya jelaskan sama Pak Rahman, itu sistem di hotel. Yang lima juta kan pembayarannya melalu transfer, makanya pas sudah pelunasan pada bukti pembayaran tidak terlihat lagi. Memang demikian sistem kita, masing-masing hotel pasti beda sistemnya,” katanya. (rel/ucup/B)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button