EkonomiHeadlineIndeks

TPL Diharap Latih Masyarakat Kembangkan Produk Olahan Eucalyptus

MEDAN (bareskrim.com) | Seribu satu manfaat. “Itulah julukan yang tepat bagi tanaman pintar Eucalyptus,” kata seorang masyarakat Kampung Sejahtera, Adly Nasution usai melakukan panen perdana daun Eucalyptus saat berbincang-bincang dengan pengurus UKM Jurnalis Bina Mandiri (JBM), 12 Agustus 2021.

Panen daun dari pohon Eucalyptus itu dilakukan di seputaran bantaran sungai yang berada di kawasan Kampung Sejahtera (Kampung Madras) yang terletak di Jalan Zainul Arifin, Medan.

Tanaman yang diisukan sebagai tanaman perusak lingkungan ini justru menurut Adly menunjukan kehebatannya di tengah pandemi covid-19 ini.

Kalau tadinya, produk yang dihasilkan dari minyak atsiri daun Eucalyptus ini terbilang sedikit, tapi saat ini banyak bermunculan produk baru berbahan baku Eucalyptus dan pamornya semakin melejit karena dinilai efektif menangkal virus Covid-19.

Sebut saja diantaranya sabun pencuci tangan, sabun badan, pembersih atau pengepel lantai, hand sanitizer ditambah dengan produk yang sudah melegenda selama ini seperti minyak kayu putih, minyak telon, minyak gosok dan lain sebagainya.

Menurut Adly, istrinya yang bekerja di bidang farmasi telah membuat sabun padat untuk badan. Sabun badan berbahan Eucalyptus itu akan diproduksi secara komersil.

“Kalau ini dikembangkan di tengah-tengah masyarakat pastinya tidak hanya menambah pendapatan saja tapi juga masyarakat bisa terlindungi dari virus mematikan Covid-19 dengan rajin mencuci tangan,” kata Ketua Perkumpulan Pemuda Pemudi Kampung Sejahtera, (P3KS), Rasyid dalam obrolan itu.

Karena itu, kata Rasyid, pengembangan ilmu masyarakat dalam pembuatan berbagai produk industri rumah tangga berbahan Eucalyptus perlu dilakukan.

Apalagi saat ini, ada berkisar 19 batang tanaman eucalyptus yang telah ditanam di sepanjang bantaran sungai di kawasan Kampung Sejahtera.

Dimana daunnya sudah dapat dipanen meskipun tanamannya masih berumur lima bulan, tapi ketinggian pohonnya sudah mencapai berkisar 2,5 meter.

“Eucalyptus ini ditanam pada bulan Maret lalu. Penanaman yang dilakukan ini tidak akan memberikan manfaat nyata bagi ekonomi masyarakat kalau daunnya tidak dimanfaatkan,” jelasnya.

Ketua UKM JBM, Fakhrudin Pohan alias Kocu menambahkan, penanaman pohon Eucalyptus secara rumahan (tanaman pekarangan) sudah merambah beberapa wilayah di Sumatera Utara, seperti Kota Medan, Binjai, Deliserdang dan Serdang Bedagai (Sergai).

Dan, melihat manfaatnya yang begitu banyak bagi kesehatan manusia, sosialisasi tanaman Eucalyptus ini, menurut Kocu, akan terus dilakukan.

Kocu berharap, kolaborasi UKM Jurnalis dengan perusahaan TPL dapat dikembangkan dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk mengolah daun Eucalyptus menjadi produk rumahan yang bermanfaat.

Soal tanaman yang digadang-gadang banyak menyerap air, Corporate Comunication (Corpcom) PT Toba Pulp Lestari, Tbk (TPL) Medan, Dedy Armaya membantahnya.

“Tanaman Eucalyptus ini tidak seperti yang banyak diperdebatkan orang. Pohon ini termasuk tanaman pintar. Disebut pintar karena, saat mulai besar atau di atas satu tahun, ranting-ranting pohon akan jatuh (gugur) dengan sendirinya,” terang Dedy.

Kalau ranting-ranting berguguran dan tersisa batang dengan daun pucuk atas, lanjut Dedy, pastinya serapan air akan semakin sedikit.

“Itu yang terjadi selama ini di area pengembangan eucalyptus yang dikembangkan perusahaan PT Toba Pulp Lestari (TPL),” kata Dedy.

Selama ini, kata Dedy, daun eucalyptus tidak dimanfaatkan perusahaan. Perusahaan hanya mengambil batang pohon Eucalyptus. Karena itu, daun yang menjadi limbah perusahaan itu akan sangat berarti bila dimanfaatkan.

“TPL berharap melalui kerjasama dengan UKM JBM produk-produk home industri berbahan eucalyptus akan bermunculan,” kata Dedy. (ani/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button