HeadlineIndeksKriminalitas

Puncak Laut Tawar Kini Porak Poranda

SIMALUNGUN (bareskrim.com) | Puing-puing kayu berserakan di lahan Puncak Laut Tawar. Bangunan yang awalnya berdiri di kawasan wisata itu kini rata dengan tanah.

Robohnya sejumlah pondok kayu yang diklaim milik Karya Bhakti Purba (pemilik lah Puncak Laut Tawar) yang dikabarkan dirusak oleh alat berat kepunyaan PT SPS.

Hingga saat ini aktivitas dugaan penyerobotan lahan masih terus berlangsung sejak 20 September 2021. Kendati telah dilaporkan ke pihak berwajib, namun aktivitas tetap berjalan.

Pengelola lahan Wisata Puncak Laut Tawar Benson Kaban yang ditunjuk langsung oleh pemilih tanah (Karya Bhakti Purba), menuturkan, selain lahan yang dikelolanya menjadi Puncak Laut Tawar Taman Ekowisata Semenanjung Danau Toba seluas 7 hektar (sering disebut juga Puncak Rumah Tuan), lahan lainnya milik Avensius Girsang dan Marjan Girsang juga ikut dirusak dengan alat berat.

“Di lapangan saat ini jalan sudah di portal dengan plank kayu, bertuliskan dilarang masuk Pasal 551 tanpa seizin PT SPS. Dimana pemiliknya adalah MHS. Anehnya lokasi ini tetap dibuka dengen ganti nama dan dikelola sendiri,” katanya, Kamis, 21 Oktober 2021.

Diungkapkapnya, di Saribu Dolok warga menuturkan dihadapan LSM Mitra Kejaksaan Badhika Adhiaksa Nusantara dipimpin oleh Darista Kaban, bahwa tanah puncak tersebut tidak pernah menjual kepada PT SPS.

Benson mengatakan, salah satu pemilik lahan yang juga warga asli Dusun Hoppoan, Robert Girsang yang memiliki tanah seluas 28 rante di Puncak Bukit tersebutpun ikut dirusak.

Selanjutnya, warga setempat yang juga pemilik wisata BIR, Jadihot Girsang menuturkan bahwa sejak PT SPS didirikan tidak ada pernah membawa keuntungan sama masyarakat.

Masyarakat merasa ditipu sejak diminta tanah adat pago-pago seluas 70 hektar yang seharusnya peruntukannya sebagai usaha pariwisata. Kenyataannya disalahgunakan sebagai usaha Galian C Batu Split dan ditanam kayu Eucalyptus.

“Menurut dugaan saya, PT SPS hanya melakukan investasi bodong atas nama pariwisata, hal tersebut ditandai dengan seringnya diundang investor ke lokasi rest area milik PT SPS, yang keberadaannya juga di kawasan Hutan Lindung (KPH II Simalungun Aek Nauli),” ujarnya.

Lain lagi Marjan Girsang, sudah 16 rante lokasi lahannya (warisan keluarga) digarap alat berat, sebelumnya dilahan yang berlainan tanamannya dirusak, seperti padi, jahe, labu, kentang dan kopi.

Sebelumnya, masalah ini sudah diadukan ke Polsek Saribudolok dan Polres Simalungun atas hal pemukulan wanita pengelola kantin dan penyerobotan lahan yang dilakukan PT SPS.

“Bahkan sebelum pengaduan, warga sudah 2 kali datang ke Kantor Camat Pamatang Silima Huta, Camat dan Kepala Desa juga sudah menerbitkan Surat Peringatan menghentikan aktivitas ke PT SPS,” kata Benson.

Juper Polres Simalungun, Wirawan Halolo SIK MH mengatakan, benar ada laporan tentang pemukulan penjaga kantin di lahan tersebut, dan laporan terkait kepemilihan lahan tersebut.

“Rencana besok (Jumat) akan melaksanakan gelar di Sat Reskrim Polres Simalungun. Dan silahkan konfirmasi saja kepenyidiknya langsung yang menangani perkara tersebut,” ujarnya.

Sebelumnya 3 tahun lalu, warga pernah dikrimiminalisasi oleh PT SPS sebanyak 9 Kepala Keluarga.

“Dusun Hoppoan merupakan dusun berpenduduk 42 KK, terletak di kaki Bukit Sipiso-piso Tepi Jurang Danau Toba, berada ditengah lokasi yang diklaim PT SPS memiliki lahan seluas 300 hektar lebih,” kata Benson.

Dikatakannya, atas nama HGB PT SPS telah merampas hak masyarakat, juga mengklaim ikut menguasai hutan lindung seluas 25.7 hektar milik KPH XV di desa Sibolangit, Merek Kabuoaten Karo, yang saat ini sudah dihijaukan oleh KTH Aek Juma.

Hingga saat ini, awak media sedang berupaya mencari keterangan dan informasi kepada pihak PT SPS terkait dugaan penyerobotan lahan Puncak Laut Tawar. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button