HeadlineIndeksKriminalitas

Aseng Berastagi Ngaku Jadi Korban Kekejaman Mafia Tanah

SIMALUNGUN (bareskrim.com) | Pemilik lahan Puncak Laut Tawar Dusun Hoppoan Desa Sinar Naga Mariah perbatasan Simalungun – Karo, Karya Bhakti Setiawan Purba alias Aseng Berastagi mengaku menjadi korban kekejaman Mafia Tanah terorganisir.

“Mungkin saya adalah satu diantara sekian orang yang menjadi korban, ini juga yang menjadi contoh hambatan nyata program super prioritas pemerintah pusat mengembangkan destinasi Danau Toba,” katanya, Jumat, 22 Oktober 2021.

Menurutnya, lahan Puncak Laut Tawar dibeli dari warga setempat pada sejak tahun 2009. “Saat mulai dikelola dengan satu keyakinan pasca pandemi usaha wisata alam akan menggeliat dan sebagai suksesi atas program super prioritas pemerintah pusat, tentang danau Toba sebagai Monaco Of Asia,” katanya.

Lahan tersebut mulai dibuka untuk pariwisata sejak 8 Maret 2021, sebelumnya dikelola sebagai usaha pertanian diserahkan kepada Marjan Girsang penduduk setempat yang sudah menjadi anak angkat Aseng Berastagi.

Seiring berjalannya waktu, pada 13 September 2021, terjadi dugaan penyerobotan lahan Puncak Laut Tawar, atas PT SPS memasang Plank berisi tanah ini milik PT SPS dengan pemilik HS, tertera nomor sertifikat HGB dengan peta dan luas lahan lebih 15 hektar.

“Awalnya saya tidak anggap satu persoalan karena menurut asumsi itu pasti salah alamat oleh orang lapangannya, karena sejak saya beli tanah dari awal tidak ada sangkut paut dengan tanah HGB menurut data yang saya peroleh sebelum membeli tanah tersebut,” ujarnya.

Juga diatas bukit tersebut ada satu lembar lahan seluas 28 rante tidak ikut dijual kepada saya, ujarnya.

Sejarahnya keseluruhan bukit itu dimiliki oleh 4 klen keluarga asli Hoppoan (2 Girsang, 1 Sijabat dan 1 Manikhuruk), 3 Klen menjual kepada Karya dan 1 klen tidak menjual, itulah keluarga besar Avensius Girsang.

“Kami memiliki kedekatan sangat baik untuk membuat rencana mengelola satu bukit itu, saat ini kami sama-sama menjadi korban penyerobotan PT SPS,” katanya.

Aseng Berastagi tenang dan tidak panik karena benar adalah lahan miliknya, dan diserahkan kepada proses hukum yang berjalan.

“Warga Dusun Hoppoan sudah benar-benar ‘panas’ melihat geliat PT SPS tersebut, apalagi banyak tanaman warga di sekitar lokasi tersebut ikut jadi korban penyerobotan, bahkan diluar plank awal, tanah Marjan Girsang juga ikut diserobot, saat ini didirikan plank dan portal utama. Juga di sekitar itu dibangun posko jaga mirip kantor secara permanen,” ujarnya.

Ia menambahkan, semua hal yang dibuatnya (PT SPS) ini semata-mata untuk memancing amuk massa dan menunggu untuk dikriminalisasi. Karena inilah cara-cara PT SPS menakut-nakuti dan memecah warga setelah terjadi penangkapan.

Lihat saja triknya, ucap Karya Bhakti awalnya yang diadukannya 2 orang tukang, seorang petani penyewa dan Marjan Girsang (orang yang pernah dipenjarakan dalam kasus yang berbeda 3 tahun lalu). Oleh karena itu, warga diharap tenang, kita tunggu proses hukum yang berjalan.

“Satu yang pasti, saya tidak ada menggarap tanah hutan milik negara, menipu masyarakat dan merampas tanah masyarakat. Saya memiliki lahan dengan proses ganti rugi dengan jual beli secara sah dan diakui semua warga,” ujarnya. (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button