HeadlineIndeksPolitik

Pendeta Asaf Marpaung Tantang Pengklaim Tanah Gereja IRC Tunjukan Warkah

Pendeta Asaf Marpaung Tantang Pengklaim Tanah Gereja IRC Tunjukan Warkah | MEDAN (bareskrim.com) | Lahan atau tanah tempat berdirinya Gereja Indonesia Revival Church (IRC), sebahagiannya diklaim milik Milva Riosa Siregar yang merupakan istri Guntur Togap Marbun.



Hal itu diperkuat dengan bukti kepemilikan sertifikat tanah bernomor 02.01.10.02.1.04657 (seluas 831 meter kubik) dan 02.01.10.02.1.02556 (548 meter kubik) atasnama Milva Riosa Siregar.

Guntur Togap Marbun dan Milva Riosa Siregar kepada awak media beberapa waktu lalu, mengaku sebagai pemilik tanah yang sah sesuai surat sertifikat berlogokan BPN (Badan Pertanahan Nasional) yang dikantonginya.

Bahkan, kuasa hukumnya Jonathan Tambunan dalam statementnya yang dikutip dari media membeberkan, bahwa kliennya memiliki bukti SHM dan kwitansi pembelian. “Permasalahan sengketa tanah ini juga sudah ada putusan Mahkamah Agung,” sebut kuasa hukum.

Pengklaiman kepemilikan tanah di lokasi Gereja IRC yang dimiliki istri Guntur Togap Marbun, disangkal Pendeta Dr Asaf T Marpaung mewakili seluruh jemaat Gereja IRC.

“Secara administrasi dalam sertifikat memang benar itu atasnama Milva Riosa Siregar. Tapi secara fakta dan bukti, sebenarnya hanya pinjam nama saja ketika pembuatan sertifikat tanah itu. Milva Riosa Siregar kala itu dipercaya sebagai Bendahara Gereja IRC, sehingga namanya dipinjampakai untuk kepentingan sertifikat,” kata Pendeta Dr Asaf T Marpaung, Selasa, 23 Agustus 2022.

Pdt Dr Asaf T Marpaung secara gamblang menegaskan, kepemilikan tanah secara history adalah milik jemaat Gereja IRC yang dikuasakan kepada saya (Pdt Asaf T Marpaung) untuk membeli tanah tersebut yang diperuntukan bagi pembangunan Gereja IRC.

“Kita ada pegang Warkah Tanah Gereja IRC, yang dibeli bulan April tahun 2008. Secara history pembelian tanah seluas 2.178 M2 di Lingkungan XI Kelurahan Tanjung Sari Kecamatan Medan Selayang Kota Medan adalah milik almarhum Anduk Kaban,” ungkap Ketua Umum DPP BKAG ini.

Seperti diketahui, Warkah Tanah adalah dokumen yang merupakan alat pembuktian data fisik dan data yuridis bidang tanah yang telah dipergunakan sebagai dasar pendaftaran bidang tanah tersebut. 

Pendeta Asaf Marpaung Tantang Pengklaim Tanah Gereja IRC Tunjukan Warkah-1

“Kita tantang saudara Guntur Marbun dan saudari Milva Riosa Siregar untuk menunjukan Warkah Tanah yang katanya dimiliki di tanah Gereja IRC. Jangan hanya berkoar-koar di media dan publik mengklaim sebagai pemilik tanah di lahan Gereja IRC. Saya tantang suami istri itu buka-bukaan di pengadilan atau kepolisian atau intansi lainnya. Agar diketahui publik siapa yang sebenarnya yang memiliki tanah Gereja IRC,” katanya.

Perlu diketahui oleh publik bahwa secara administrasi pertanahan, tanah seluas 2.178 M2 dipecah menjadi tiga sertifikat. Pertama, atasnama Pdt Asaf T Marpaung; Kedua, atasnama Milva Riosa Siregar; Ketiga, atasnama Rasiman Kaban.

Mengapa dilakukan menjadi tiga bagian sertifikat. “Karena pada saat itu, pemerintah memberlakukan sistem PRONA (Proyek Operasi Nasional Agraria). Karena tidak diperbolehkan seseorang memiliki tanah lebih dari 2000 meter, maka jalan prona lah yang kami tempuh,” ungkap lulusan gelar Doktor dari University of Jerusalem ini.

Pdt Dr Asaf T Marpaung juga membeberkan bahwa, ia juga mengantongi surat pernyataan atau pengakuan yang dibuat diatas notaris pada 22 Maret 2018, bahwa pemilik sertifikat nomor 2556 atasnama Rasiman Kaban dan Tekang F Sembiring (istri alm. Anduk Kaban), pada point 3 menyatakan: “Bahwa pada saat penjualan tanah tersebut, saya berurusan dengan pendeta Asaf T Marpaung dan bukan Milva Riosa Siregar dan pembayaran juga melalui Pendeta/Pengurus Gereja IRC tersebut”.

Pada point 5 disebutkan: “Bahwa penandatanganan Surat Jual Beli tanah tersebut ada atasnama Pendeta Asaf T Marpaung dan juga atas nama Milva Riosa Siregar, sertifikat nomor 2556 an. Rasiman Kaban balik nama kepada Milva Riosa Siregar dan dipecah lagi luas 2076 M2 dibagi dua an. Pendeta Asaf T Marpaung seluas 1245 M2 dan an. Milva Riosa Siregar seluas lebih kurang 548 M2”.

Inilah, lanjut Pdt Asaf T Marpaung, secara singkatnya history kepemilikan tanah Gereja IRC. “Meski dalam administrasi ada nama saya, namun pemilik sebenarnya tanah gereja ini adalah para jemaat IRC, bukan milik pribadi saya. Dan, perlu saya sampaikan bahwa setetes keringat dari keluarga Guntur Togap Marbun tidak ada disumbangkan atau keluar dalam pembangunan Gereja IRC. Para jemaat lah yang saling bergotongroyong menyumbang materi dan tenaga dalam pembangunan Gereja IRC,” ucapnya.

Perlu dicatat bahwa, ucap Pdt Dr Asaf T Marpaung, sebelumnya kami melakukan gugatan hukum atas sertifikat tanah atasnama Milva Riosa Siregar, adalah kasus perampasan, bukan kepemilikan.

Terjadinya gugatan hukum tersebut disebabkan karena pada bulan Februari 2018, terjadi perampasan secara paksa sertifikat tanah yang dilakukan langsung oleh Guntur Marbun bersama orang-orang tak dikenal di dalam kantor administrasi Gereja IRC.

“Dalam putusan sengketa hukumnya di PN Medan pada 19 Desember 2018, majelis hakim pada point ke 4 memerintahkan Tergugat I, yakni Milva Riosa Siregar dan Tergugat II adalah Guntur Togap Marbun, untuk menyerahkan sertifikat asli nomor 4657 seluas 831 M2 dan sertifikat asli nomor 2556 seluas 548 M2 dalam keadaan baik kepada Gereja IRC. Dan pada point 6 menyatakan sertifikat nomor 2556 dan nomor 4657 an. Tergugat I tidak memiliki hak apapun atas terhadap sertifikat tersebut,” sebut Pdt Dr Asaf T Marpaung.

Namun, oleh saudari Milva dan saudara Guntur melakukan banding atas putusan itu di Pengadilan Tinggi Sumut hingga bergulirnya banding lagi ke Mahkamah Agung. Dan yang harus diketahui publik bahwa putusan di Mahkamah Agung atas perkara tersebut pada 7 Agustus 2019, adalah putusan tidak dapat diterima alias putusan NO, baik dari pihak pemohon penggugat maupun tergugat.

Dikutip dari website Kementerian Keuangan disebutkan bahwa “Putusan Niet Ontvankelijke Verklaard atau yang seringkali disebut sebagai Putusan NO, merupakan¬†putusan yang menyatakan bahwa gugatan tidak dapat diterima, karena mengandung cacat formil.”

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Muda Bina Kerjasama Antar Generasi (DPP GM BKAG) Indonesia, Samuel Marpaung meragukan pernyataan kuasa hukum atau pengacara saudara Guntur Togap Marbun, mengatakan bahwa permasalahan sengketa tanah ini juga sudah ada putusan Mahkamah Agung.

“Pengacara itu harus menjabarkan ke publik petikan putusan Mahkamah Agung yang sebenar-benarnya. Jangan ambigu, menyatakan sudah ada putusan Mahkamah Agung, tapi tidak terperinci isi petikan putusan tersebut. Apakah pengacara itu memahami putusan NO yang disebutkan majelis hakim Mahkamah Agung?” ucap Samuel.

Samuel mengungkapkan, sesuai Kode Etik Advokat Indonesia dalam pasal 3 ayat 2 dijelaskan bahwa “Advokat dalam melakukan tugasnya lebih mengutamakan tegaknya Hukum, Kebenaran dan Keadilan”. Dan dalam Pasal 4 ayat 2 menyebutkan, “Advokat tidak dibenarkan memberikan keterangan yang dapat menyesatkan klien mengenai perkara yang sedang diurusnya.”

“Harusnya seorang advokat menjunjung tinggi Kode Etik Advokat Indonesia, tidak memberikan informasi yang dinilai menyesatkan, seperti halnya yang diutarakan pengacara Jonathan Tambunan di media yang mengatakan, “Atas dasar kepemilikan SHM dan putusan Mahkamah Agung, Jonathan meminta IRC meninggalkan lokasi itu”.

Menurut Samuel, atas dasar apa minta jemaat IRC untuk ‘angkat kaki’. “Negara kita negara hukum. Silahkan gugat ke jalur hukum, ada proses hukum yang harus dilalui, sebelum memberikan statement yang terbilang menyesatkan umum. Jemaat IRC menanti gugatan hukum terkait kepemilikan tanah Gereja IRC,” cetus lulus Sarjana Hukum dari Universitas Pelita Harapan (UPH). (ucup/B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button