IndeksKriminalitas

Siswa Kelas 1 di Medan Diduga Jadi Korban Perundungan Kakak Kelas

Siswa Kelas 1 di Medan Diduga Jadi Korban Perundungan Kakak Kelas — MEDAN (bareskrim.com) | Seorang bocah WS (6) pelajar kelas 1 SD menjadi korban dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh kakak kelasnya. Kejadian dugaan penganiayaan itupun terjadi diduga di areal Sekolah Dian Harapan Medan.

Menurut seorang dari tim kuasa hukum WS, Diky Murwansah SH MH, dugaan penganiayaan itu terjadi pada 3 Agustus 2023. “Saat itu anak klien kita meminjam buku dari seorang kakak kelasnya inisial G,” kata dia, Rabu, 30 Agustus 2023.

Lantara tidak ada respon, WS merasa G telah menyetujui dan mengambil buku tersebut. “Namanya anak-anak, anak klien kita merasa sudah disetujui. Terus membawa buku yang dipinjamnya itu,” ucapnya.

Ternyata G bersama 4 temannya tiba-tiba mengejar WS yang masih di areal gedung sekolah. “G bersama empat temannya itu diduga melakukan pemukulan dan pengeroyokan terhadap WS. Korban mengalami cedera fisik dan Psikis berupa luka-luka disekitar kaki, tangan dan telinga,” ujarnya.

Bahwa berdasarkan Surat Keterangan Rumah Sakit Siloam Dhirga Surya menerangkan korban didiagnosa trauma membran tympani telinga kanan dan hematoma mastoid kanan. “Kami sudah konfirmasi ke dokter, gendang telinganya bisa sembuh tapi cacat. Korban juga melangalami trauma psikologis,” kata dia.

Atas kejadian ini, sambung dia, orang tua WS bersama tim kuasa hukum telah berupaya berkoordinasi dengan pihak sekolah. “Tapi pihak sekolah tidak mau menyelesaikan perkara ini,” ucapnya.

Pihak keluarga maupun tim kuasa hukum kemudian mengambil langkah menyelesaikan masalah ini ke Dinas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). “Untuk memediasi ternyata deadlock. Alasan deadlock karena saat itu yang disuruh datangkan orang tua, orang WS kan sudah memberikan kuasa kepada kita. Jadi orang tua dan tim kuasa hukum ikut saat di lokasi areal sekolah. Jadi kami dari kuasa hukum tidak dibolehkan masuk untuk mengikuti mediasi itu,” katanya sembari menyebutkan kenapa mediasi itu dilakukan di sekolah bukan di Dinas P2TP2A.

M Ibnu Kurniawan SH yang juga tim kuasa hukum menambahkan, atas kejadian yang menimpa WS, pihaknya meminta pertanggungjawaban dari pihak sekolah. “Karena kejadiannya di sekolah. Kami sudah berupaya menjumpai pihak sekolah untuk etikat baiknya, tapi mereka buat rumit,” ujar dia.

Masih dia, tidak tertutup kemungkinan tim kuasa hukum bersama pihak keluarga akan mengambil langkah hukum. “Mungkin nanti kami akan mengambil langkah hukum lain. Untuk sekarang ini kami minta pertanggungjawabannya saja dulu,” jelas dia.

Menurut dia, pihak sekolah diduga melakukan pembiaran terhadap kasus yang menimpa WS. “Diduga pembiaran, karena kasus pada 3 Agustus, kami konfirmasi pada seminggu yang lalu. Sudah hampir sebulan. Seakan-akan membiarkan,” ucapnya.

Wartawan mencoba mengkonfirmasi soal tersebut kepada Kepala Sekolah Dian Harapan Medan, Aprillia beberapa kali lewat pesan whatsapp. Tapi yang bersangkutan tidak memberi respon.

Pada Kamis, 31 Agustus 2023, wartawan mencoba konfirmasi langsung dengan mendatangi sekolah yang berada di lantai 10 gedung Lippo Jalan Imam Bonjol Medan. Tapi seorang security sekolah bernama Agus Salim mengatakan kalau Aprillia sedang sibuk.

“Maaf bang, ibu Aprillia sedang rapat tidak bisa ditinggal (rapatnya),” singkat dia. (wyu/B)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button